BANDUNG, SEPUTARBANK – Dakara Kreasi terus mendorong penguatan kualitas perencanaan bisnis perbankan melalui penyusunan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang mengedepankan prinsip kehati-hatian serta penerapan manajemen risiko. Langkah ini dinilai penting agar strategi bisnis perbankan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan, keberlanjutan, dan kemampuan bank dalam menghadapi dinamika industri.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Workshop Penyusunan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang diselenggarakan pada 3–4 November 2026 di Lumensa Hotel Bandung. Kegiatan ini diikuti sejumlah pejabat perbankan dari berbagai Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Workshop tersebut menghadirkan Djoko Nugroho, Founder Dakara Kreasi, sebagai pemateri. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai penyusunan RBB yang selaras dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekaligus mampu menjadi pedoman strategis dalam pengembangan usaha bank.
Djoko menjelaskan, RBB bukan sekadar dokumen administratif yang disusun untuk memenuhi kewajiban regulator. Lebih dari itu, RBB merupakan instrumen penting yang menentukan arah kebijakan, strategi pengembangan usaha, hingga pengelolaan risiko perbankan.
“Rencana Bisnis Bank merupakan dokumen tertulis yang menggambarkan rencana kegiatan usaha bank untuk jangka pendek selama satu tahun dan jangka menengah selama tiga tahun. Di dalamnya mencakup target peningkatan kinerja usaha serta strategi yang akan ditempuh untuk merealisasikan target tersebut,” ujar Djoko.
Menurutnya, penyusunan RBB harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan kondisi internal bank, prospek perekonomian, perkembangan industri perbankan, serta berbagai potensi risiko yang dapat memengaruhi pencapaian target bisnis.
Ia menegaskan, bank tidak cukup hanya menetapkan target pertumbuhan bisnis yang tinggi. Setiap rencana dan strategi yang disusun harus didukung analisis yang matang, perhitungan yang realistis, serta kemampuan pengelolaan risiko yang memadai.
“RBB harus menjadi pedoman kerja yang benar-benar dapat dijalankan. Jangan sampai target bisnis hanya terlihat baik di atas kertas, tetapi tidak didukung oleh strategi, kapasitas organisasi, dan pengelolaan risiko yang memadai. Prinsip kehati-hatian harus menjadi landasan dalam setiap perencanaan,” tegasnya.
Djoko juga menjelaskan bahwa penyusunan RBB kini semakin penting seiring dengan penguatan regulasi melalui POJK Nomor 17 Tahun 2026 tentang Rencana Bisnis Bank Umum. Ketentuan tersebut diterbitkan untuk memperkuat kualitas perencanaan bisnis bank agar lebih adaptif terhadap perkembangan industri perbankan, transformasi digital, serta dinamika perekonomian.
Selain itu, regulasi tersebut juga diarahkan untuk mendukung pelaksanaan pengawasan OJK berbasis risiko agar semakin efektif.
Melalui ketentuan terbaru tersebut, OJK menegaskan bahwa RBB harus menjadi instrumen strategis bagi bank dalam menetapkan arah kebijakan, menyusun strategi pengembangan usaha, serta mengelola risiko secara terukur dan berkelanjutan.
“Regulasi ini harus dipahami sebagai momentum bagi perbankan untuk meningkatkan kualitas perencanaan bisnis. RBB bukan hanya kewajiban pelaporan kepada OJK, melainkan kompas bagi manajemen dalam menentukan prioritas, mengambil keputusan bisnis, dan memastikan seluruh aktivitas bank tetap berada dalam koridor manajemen risiko,” jelas Djoko.
Ia menambahkan, kualitas RBB juga memiliki peran penting dalam mendukung efektivitas pengawasan OJK. Dengan tersedianya informasi yang komprehensif mengenai arah pengembangan usaha dan strategi bank, regulator dapat melakukan pengawasan secara lebih antisipatif atau forward looking.
Karena itu, Dakara Kreasi mendorong agar penyusunan RBB tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga menjadi proses evaluasi strategis yang melibatkan seluruh lini manajemen bank.
Melalui workshop ini, diharapkan para peserta mampu meningkatkan pemahaman dan kompetensi dalam menyusun RBB yang berkualitas, realistis, terukur, serta sesuai dengan ketentuan regulator.
Djoko berharap, penguatan kapasitas sumber daya manusia perbankan dalam menyusun RBB dapat membantu bank membangun strategi bisnis yang lebih sehat, adaptif, dan berkelanjutan di tengah tantangan industri keuangan yang semakin dinamis.