Lewati ke konten utama
Bisnis 3 Menit Baca

Menyemaikan Cinta Batik Kota Bekasi di Jemari Generasi Muda

H

Henigun

26 October 2026

Menyemaikan Cinta Batik Kota Bekasi di Jemari Generasi Muda
Sri Sunarni, pengrajin Batik Kota Bekasi.(Foto: Doc Redaksi

KOTA BEKASI, SEPUTARBANK - Berapa banyak anak muda di Kota Bekasi yang sadar bahwa tanah kelahirannya memiliki kekayaan motif batik yang khas dan telah dipatenkan? Pertanyaan sederhana ini menjadi pemantik gelisah sekaligus semangat bagi Sri Sunarni.

Perempuan yang telah mendedikasikan lebih dari 12 tahun hidupnya sebagai pengrajin Batik Kota Bekasi ini tak pernah lelah merawat warisan lokal. Bagi Sri, merawat tradisi bukan sekadar memproduksi kain, melainkan mewariskan rasa bangga kepada generasi penerus.

Langkah nyata itu kembali ia wujudkan pada Senin (26/10/2026). Workshop Batik Sri di kawasan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, mendadak riuh oleh kehadiran puluhan siswa SMP IT Arkan Cendekia. Hari itu, ruang kerjanya menjelma menjadi laboratorium budaya tempat anak-anak belajar memegang canting dan mengalirkan malam di atas bentangan kain putih.

Siswa SMPNIT Arkan Cendekia belajar mencanting Batik Kota Bekasi di Workshop Batik Sri.
Siswa SMPNIT Arkan Cendekia belajar mencanting Batik Kota Bekasi di Workshop Batik Sri.

Mengenal Warisan Sendiri Sebelum Melirik Daerah Lain

"Ternyata masih banyak siswa yang belum tahu kalau Kota Bekasi itu punya batik sendiri. Mereka bingung dan merasa asing karena memang belum kenal," cerita Sri dengan nada hangat saat membagikan alasannya membuka pintu workshop lebar-lebar bagi para pelajar.

Ketakutan terbesar Sri adalah melihat batik daerahnya meredup di rumah sendiri, kalah tenar dari batik-batik asal daerah lain yang sudah lebih dulu tersohor.

"Batik Kota Bekasi ini kalau tidak cepat-cepat kita lestarikan, lama-lama akan makin asing buat anak muda. Padahal kita punya identitas sendiri, kenapa harus selalu melirik keluar?" tegasnya penuh harap.

Dari Bosan Jadi Decak Kagum

Proses menorehkan lilin panas ke kain tentu membutuhkan kesabaran ekstra—hal yang tidak biasa bagi remaja masa kini. Sebanyak 39 siswa kelas XI yang hadir pada hari pertama pelatihan sempat menunjukkan guratan lelah dan bosan di awal proses.

Namun, pendar kebahagiaan mulai terpancar saat tahap demi tahap terlewati.

"Alhamdulillah, ujung-ujungnya mereka kelihatan senang sekali," tutur Sri tersenyum. "Awalnya nyanting memang kelihatan membosankan buat anak-anak. Tapi begitu warna dan motifnya mulai muncul, lalu hasilnya kelihatan bagus, di situ wajah mereka berubah jadi puas dan bangga." sambungnya.

Menghubungkan Canting dengan Jiwa Pancasila

Senyum dan kebanggaan siswa juga dirasakan oleh Nouval Abdillah, guru pendamping dari SMP IT Arkan Cendekia. Pihak sekolah sengaja merancang kegiatan outing class ini selama dua hari untuk 81 siswanya. Hari pertama diikuti oleh 39 siswa putra, disusul 42 siswa putri pada Selasa (27/10/2026).

Bagi Nouval, yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Pancasila, menorehkan canting bukan sekadar praktik kesenian, melainkan penanaman nilai-nilai kebangsaan secara nyata.

"Belajar mengenal Batik Kota Bekasi erat kaitannya dengan Pendidikan Pancasila. Ini adalah bagian dari menjaga dan melestarikan budaya daerah yang berakar pada semangat Bhinneka Tunggal Ika," jelas Nouval.

Melalui goresan canting di jemari para siswa, harapan besar disemaikan: agar generasi muda Kota Bekasi tak hanya tahu, tetapi juga bangga dan siap menjaga warisan budayanya sendiri agar tak lapuk ditelan zaman.

H

Henigun