JAKARTA, SEPUTARBANK – PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) berhasil mempertahankan tren pertumbuhan positif hingga kuartal III-2026. Kinerja tersebut tercermin dari peningkatan laba sebelum pajak hingga penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta perbaikan kualitas aset yang semakin solid.
Dalam siaran pers resmi Bank Sampoerna yang diterima Seputarbank.com, Kamis (5/11/2026), perseroan mencatatkan penyaluran pinjaman sebesar Rp9,98 triliun hingga akhir September 2026.
UMKM menjadi sektor terbesar dari penyaluran tersebut yang telah mencapai sekitar 57 persen atau setara Rp5,69 triliun. Dominasi ini sebagai bentuk dari dukungan Bank Sampoerna terhadap pelaku UMKM, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Komitmen pembiayaan terhadap sektor UMKM tersebut berjalan seiring dengan perbaikan kualitas kredit. Hal ini terlihat dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross yang turun menjadi 2,87 persen pada kuartal III-2026, dibandingkan 4,12 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut juga lebih rendah dibandingkan batas maksimum NPL yang ditetapkan regulator sebesar 5 persen maupun rata-rata NPL gross industri UMKM yang mencapai 4,53 persen.
Di tengah tantangan ekonomi domestik dan global, Bank Sampoerna tetap memiliki fondasi permodalan yang kuat. Hingga September 2026, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 31,31 persen, meningkat dibandingkan 29,05 persen pada September 2025. Sementara itu, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 88,82 persen.
Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra, mengatakan peningkatan literasi keuangan yang terus dilakukan di berbagai daerah turut memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap perseroan. Hal tersebut berdampak positif terhadap penghimpunan dana yang menjadi salah satu sumber likuiditas untuk mendukung ekspansi kredit.
Hingga akhir September 2026, dana murah atau Current Account and Saving Account (CASA) yang berasal dari giro dan tabungan tercatat mencapai Rp2,24 triliun.
“Dengan sejumlah tantangan yang dihadapi, kami patut bersyukur Bank Sahabat Sampoerna dapat melanjutkan tren positif pada kuartal III-2026 dengan membukukan laba sebelum pajak Rp36,16 miliar sampai dengan akhir September 2026 atau naik 104,18 persen dari periode sebelumnya (YoY) sebesar Rp17,71 miliar,” ujar Henky.
Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi landasan penting bagi perseroan untuk menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan sekaligus memperkuat komitmen dalam mendukung perkembangan UMKM di Indonesia.
Bisnis Digital Tumbuh Pesat
Selain memperkuat bisnis pembiayaan, Bank Sampoerna juga mencatatkan pertumbuhan signifikan pada layanan transaksi digital melalui model bisnis Bank as a Service (BaaS).
CEO Bank Sahabat Sampoerna, Ali Yong, mengungkapkan hingga September 2026 perseroan telah membukukan lebih dari 245 juta transaksi digital melalui layanan BaaS. Jumlah tersebut meningkat 140,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 102 juta transaksi.
Pertumbuhan transaksi tersebut turut mendorong peningkatan pendapatan. Dari bisnis BaaS, Bank Sampoerna berhasil memperoleh pendapatan sebesar Rp150,47 miliar atau tumbuh 398,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ali menilai bisnis BaaS memiliki prospek besar untuk menjadi salah satu penopang pendapatan perseroan dalam beberapa tahun mendatang, terutama di tengah tantangan yang masih membayangi sektor pembiayaan UMKM.
Bersama sejumlah mitra strategis, Bank Sampoerna terus memperluas jangkauan layanan perbankan dengan membangun ekosistem digital yang terintegrasi. Perseroan juga membuka peluang kolaborasi dengan mitra baru untuk memperluas akses layanan keuangan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
“Kami berterima kasih kepada regulator yang senantiasa mendukung pengembangan ekosistem digital Bank Sahabat Sampoerna. Kami juga terus membuka diri untuk kerja sama yang lebih luas dengan mitra strategis baru untuk memperluas jangkauan layanan digital hingga ke pelosok Tanah Air,” tegas Ali.
Pengembangan ekosistem digital tersebut menghadirkan berbagai layanan, mulai dari virtual account, pembayaran menggunakan QRIS, hingga transfer dana melalui sistem host-to-host yang semakin banyak dimanfaatkan masyarakat.
Bagi pelaku UMKM, layanan pembayaran QRIS dapat dimanfaatkan melalui aplikasi Sampoerna Mobile Merchant. Sementara itu, nasabah ritel dan masyarakat umum dapat menggunakan Sampoerna Mobile Banking untuk memenuhi kebutuhan transaksi keuangan sehari-hari.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap loyalitas nasabah, Bank Sampoerna juga secara berkala menghadirkan program undian berhadiah bagi pengguna Sampoerna Mobile Saving.
Dengan kombinasi pertumbuhan kredit UMKM, peningkatan profitabilitas, kualitas aset yang semakin baik, serta ekspansi layanan digital, Bank Sampoerna optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan bisnis hingga akhir 2026. Strategi tersebut sekaligus mempertegas komitmen perseroan dalam memperluas akses layanan keuangan dan mendukung penguatan sektor UMKM di Indonesia.