JAKARTA, SEPUTARBANK – PT Bank Pembangunan Daerah Lampung atau Bank Lampung meraih penghargaan The Most Efficient Bank dalam ajang Bisnis Indonesia Financial Awards (BIFA) 2026 untuk kategori Bank Pembangunan Daerah (BPD) wilayah Sumatera–Kalimantan.
Direktur Utama Bank Lampung, Indra Merviana, hadir langsung menerima penghargaan tersebut dalam acara BIFA 2026 yang digelar di Hotel Raffles Jakarta, Senin (12/10/2026).
Ajang tahunan yang diselenggarakan Bisnis Indonesia Group ini memberikan apresiasi kepada perusahaan di sektor jasa keuangan berdasarkan capaian kinerja selama periode 2023–2025 dan sebagai bentuk pengakuan atas kinerja dan efisiensi operasional bank sepanjang periode penilaian.
Penghargaan The Most Efficient Bank BIFA 2026 menjadi pencapaian penting bagi Bank Lampung di tengah upaya memperkuat peran bank pembangunan daerah dalam mendukung perekonomian regional.
Dengan pertumbuhan laba, peningkatan dana murah, serta penguatan permodalan, Bank Lampung memiliki modal untuk terus meningkatkan efisiensi dan memperluas kontribusinya terhadap pembiayaan sektor produktif di Lampung dan sekitarnya.
Pencapaian Bank Lampung tersebut ditopang kinerja keuangan yang menguat sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, bank ini membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp205,31 miliar, melonjak 99,03% dibandingkan Rp103,15 miliar pada 2024. Sementara itu, laba operasional meningkat 85,45% menjadi Rp280,61 miliar dari Rp151,32 miliar pada tahun sebelumnya.
Peningkatan laba tersebut antara lain didukung oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih. Sepanjang 2025, pendapatan bunga Bank Lampung tercatat Rp1,017 triliun, relatif stabil dibandingkan Rp1,016 triliun pada 2024. Di sisi lain, beban bunga turun 19,79% menjadi Rp375,72 miliar dari Rp468,44 miliar, sehingga pendapatan bunga bersih meningkat 17,03% menjadi Rp641,60 miliar dari Rp548,22 miliar.
Dari sisi efisiensi biaya, kerugian penurunan nilai aset keuangan atau impairment turun 23,29% menjadi Rp111 miliar dari Rp144,69 miliar. Beban lainnya juga berkurang 3,27% menjadi Rp177,82 miliar. Meski demikian, beban tenaga kerja meningkat 2,42% menjadi Rp249,03 miliar, sedangkan beban promosi naik 14,41% menjadi Rp18,81 miliar. Pendapatan lainnya turut meningkat 23,76% menjadi Rp101,14 miliar, meskipun pendapatan dari komisi, provisi, dan biaya administrasi turun 19,07% menjadi Rp88,63 miliar.
Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit Bank Lampung tumbuh 4,32% menjadi Rp7,51 triliun dari Rp7,2 triliun pada 2024. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8,82% menjadi Rp8,28 triliun dari Rp7,61 triliun. Pertumbuhan pendanaan tersebut terutama ditopang oleh giro yang naik 56,88% menjadi Rp1,77 triliun dan tabungan yang meningkat 1,01% menjadi Rp1,92 triliun. Adapun deposito tercatat sekitar Rp4,57 triliun, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Bank Lampung juga mencatat penguatan dana murah atau current account saving account (CASA), yang merupakan gabungan giro dan tabungan. Nilainya meningkat 21,85% menjadi Rp3,7 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp3,04 triliun pada 2024. Dari sisi aset, total aset bank mencapai Rp11,48 triliun atau tumbuh 9,72% dibandingkan Rp10,46 triliun pada tahun sebelumnya.
Penguatan kinerja juga terlihat dari sejumlah indikator permodalan dan kualitas aset. Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) meningkat menjadi 30,03% dari 28,23% pada 2024. Rasio aset produktif dan nonproduktif bermasalah terhadap total aset produktif dan nonproduktif turun menjadi 1,93% dari 2,26%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi 2,69% dari 2,82%, meskipun NPL net sedikit meningkat menjadi 1,39% dari 1,36%.
Di sisi lain, Bank Lampung mencatat peningkatan kepemilikan surat berharga sebesar 78,96% menjadi Rp1,44 triliun dari Rp809,89 miliar. Adapun penempatan dana pada Bank Indonesia turun 58,97% menjadi Rp741,17 miliar dari Rp1,8 triliun. Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) kredit juga turun 1,14% menjadi Rp154,07 miliar dari Rp155,84 miliar.