DENPASAR, SEPUTARBANK - PT Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali) mencatatkan portofolio penyaluran kredit produktif dengan porsi mencapai 62,39 persen dari total penyaluran kredit.
Capaian yang terhitung hingga Agustus 2026 ini, wujud bahwa bank milik pemerintah Provinsi Bali ini terus berupaya hadir sebagai mitra utama dalam menopang pertumbuhan sektor riil, ditengah dinamika perekonomian yang terjadi saat ini.
Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma mengungkapkan, pada setiap lini operasionalnya, BOD Bali fokus penetrasi pada sektor produktif yang berjalan selaras dengan pertumbuhan laba positif, kualitas aset kian membaik, serta penerapan prinsip kehati-hati-an (prudential banking).
Menurut Sudharma, langkah ini merupakan wujud komitmen Bank BPD Bali untuk mendampingi pelaku usaha di daerah, sejalan dengan visi transformasi Ekonomi Kerthi Bali dan program Asta Cita dari pemerintah pusat.
Ia pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan masyarakat yang menjadi fondasi utama bagi kelangsungan usaha perseroan.
"Pencapaian ini tentu tidak lepas dari kepercayaan masyarakat Bali, serta kolaborasi erat bersama seluruh pemegang saham dan pemerintah daerah. Kami berkomitmen untuk terus menjaga likuiditas dan efisiensi, sekaligus memastikan penyaluran kredit produktif bisa tepat sasaran. Harapan kami, Bank BPD Bali dapat terus mendampingi roda ekonomi daerah, membantu membuka lapangan kerja, dan membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat," ujar Nyoman Sudharma, Sabtu (12/9/2026).
Berdasarkan laporan kinerja per Agustus 2026, Bank BPD Bali membukukan pertumbuhan total aset sebesar 6,05 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y) menjadi Rp44,16 triliun. Kapasitas permodalan perseroan juga kian kokoh dengan lonjakan modal inti sebesar 21,08 persen (y-o-y) menjadi Rp6,25 triliun. Capaian ini menempatkan Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) pada level 30,59 persen, berada jauh di atas batas minimum regulator.
Sebagai bank daerah yang tumbuh bersama masyarakat, penyaluran kredit difokuskan untuk mendorong sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Total kredit secara keseluruhan tumbuh 7,03 persen (y-o-y) menjadi Rp26,20 triliun, di mana kredit spesifik UMKM mengalami lonjakan signifikan sebesar 14,52 persen hingga menyentuh angka Rp14,15 triliun.
Komitmen terhadap penggerak ekonomi kerakyatan terlihat jelas pada realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) per 26 Agustus 2026. Penyaluran KUR tercatat telah mencapai Rp1,61 triliun—atau 89,26 persen dari total target Rp1,80 triliun—kepada 2.378 rekening dengan tingkat rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) terjaga sempurna di angka 0 persen.
Skema KUR terbagi atas sektor produksi sebesar 70 persen dan sektor non-produksi sebesar 30 persen. Secara rinci, capaian ini didukung oleh:
KUR Kecil: Tersalurkan sebesar Rp1,34 triliun (penyaluran terbesar dicatatkan oleh Cabang Denpasar dan Tabanan).
KUR Mikro: Tersalurkan sebesar Rp269,13 miliar.
KUR SUMI: Tersalurkan sebesar Rp480 juta.
Selain KUR, program pembiayaan sektoral lainnya juga menunjukkan progres positif:
Kredit Usaha dan Alat Pertanian (KUA): Terealisasi Rp4,65 miliar (56,71% dari target).
Kredit Industri Padat Karya (KIPK): Mengincar target angka penyaluran Rp9,51 miliar.
Kredit Program Perumahan (KPP): Menjangkau 310 rekening dengan total Rp176,90 miliar (59% dari target), terdiri atas KPP Supply Rp79,43 miliar dan KPP Demand Rp97,48 miliar.
Produk kredit inovatif milik Bank BPD Bali pun mencatatkan kinerja stabil. Baki debet kredit KUSUMA tercatat sebesar Rp1,44 triliun dan KUSUMA SARI sebesar Rp732,17 miliar. Khusus untuk penyaluran di tahun berjalan, tingkat kelancarannya sangat baik dengan rata-rata NPL 0 persen, di mana baki debet KUSUMA mencapai Rp415,90 miliar dan KUSUMA SARI sebesar Rp520,08 miliar.
Tak ketinggalan, bank juga memfasilitasi Kredit PMI/PPLN bagi para pekerja migran. Sepanjang tahun berjalan, penyaluran telah mencapai Rp375 juta untuk 11 pekerja migran dengan NPL 0 persen.
Kualitas Aset Terjaga dan Profitabilitas Meningkat
Ekspansi kredit yang agresif ini diimbangi dengan manajemen risiko yang disiplin, termasuk lewat mekanisme penjaminan asuransi. Hasilnya, rasio NPL Gross Bank BPD Bali tetap terjaga sehat di level 1,03 persen, sedangkan Loan at Risk (LaR) berada di angka 3,30 persen.
Kedisiplinan operasional ini sukses mendongkrak profitabilitas perseroan. Bank BPD Bali membukukan laba bersih sebesar Rp945 miliar, atau tumbuh 8,14 persen (y-o-y).
Di sisi penghimpunan dana, kepercayaan masyarakat tecermin dari perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp36,31 triliun (tumbuh 4,00% y-o-y). Struktur DPK didominasi oleh dana murah (Current Account Savings Account/CASA) dengan rasio mencapai 66,47 persen.
Likuiditas perseroan juga sangat memadai untuk mengantisipasi dinamika pasar, ditunjukkan oleh Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 258,15 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) di level 143,72 persen.
Melalui pendekatan pelayanan yang inklusif serta pendampingan berkelanjutan, Bank BPD Bali optimistis dapat terus menjadi mitra utama bagi pertumbuhan UMKM dan penjaga stabilitas ekonomi daerah.