JAKARTA, SEPUTARBANK - Aset keuangan syariah di Indonesia mencatatkan pertumbuhan kian solid, dengan capaian menyentuh Rp3.131,02 triliun hingga akhir 2025.
Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, saat membuka acara Simposium Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Jakarta, Selasa.
Airlangga mengatakan, ekonomi syariah juga mempercepat peningkatan inklusi keuangan syariah di Indonesia.
"Aset keuangan syariah sudah mencapai Rp3.131 triliun, berada di posisi empat besar bersama Malaysia, Uni Emirat Arab (UAE), Arab Saudi dan Bahrain," kata Airlangga.
Merujuk pada publikasi resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akumulasi aset industri keuangan syariah di dalam negeri melonjak hingga Rp3.131,02 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 8,56% jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Pencapaian nilai ini menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah pergerakan industri syariah tanah air, yang ditopang oleh laju pertumbuhan positif di seluruh lini subsektor.
Tidak hanya itu, Airlangga membeberkan bahwa estimasi total nilai zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) berpotensi menembus Rp343,08 triliun pada tahun ini.
"Ini ruang besar yang perlu terus dioptimalkan," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, ia turut mengutip data laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) yang menempatkan industri modest fashion Indonesia di peringkat teratas secara global, dengan raihan skor tertinggi yaitu 106,5.
Menko Airlangga memproyeksikan tren positif ini bakal berlanjut kian pesat seiring tingginya gairah pasar dan perkembangan pesat pada sektor busana muslim.
"Selain itu, belanja konsumen Muslim dunia mencapai Rp2,6 triliun di tahun 2024. Dan ini akan naik di tahun 2029 sebesar Rp3,56 triliun. Jadi ini potensinya besar, dan daya saing ini juga terus ditopang oleh jaminan produk halal yang terus diperkuat sesuai dengan mandat dari Undang-Undang Halal," beber Airlangga.
"Sertifikasi halal telah mencakup 4,4 juta sertifikat bagi 3,47 juta pelaku usaha dan 14,68 juta produk, dengan 39 negara sudah menjalin mutual recognition agreement (MRA)," tambahnya.
Dirinya berharap berbagai peluang besar tersebut dapat makin dimaksimalkan lewat pembenahan mutu sumber daya manusia (SDM), penguatan tata kelola, serta integrasi yang erat antara para pelaku usaha—khususnya skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM)—dengan sektor perbankan dan keuangan syariah.
"Kemudian, penyaluran dari pembiayaan perbankan syariah sendiri sudah mencapai Rp643,5 triliun. Jadi ini perbankan syariah sudah tumbuh 9,92 persen, dan kredit usaha rakyat (KUR) syariah sendiri diberikan kepada 88.613 debitur, dan total yang terakumulasi sebesar 1,61 juta debitur," terang Airlangga.