YOGYAKARTA, SEPUTARBANK.COM – Dewan Pimpinan Wilayah Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Syariah Seluruh Indonesia (DPW HIMBARSI) Yogyakarta mendorong BPR Syariah untuk memperkuat fondasi bisnis agar mampu tumbuh sehat, tangguh, dan berkelanjutan di tengah perubahan industri keuangan.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema ““Pengelolaan BPR Syariah yang Sehat dan Tumbuh Berkelanjutan; Persoektif Bisnis, Manajemen Risiko, dan Kepatuhan” yang digelar DPW HIMBARSI Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti sekitar 60 peserta dari 14 BPR Syariah wilayah DIY dan Magelang, termasuk jajaran direksi, PE, serta tamu undangan.
Ketua DPW HIMBARSI Yogyakarta Kholid mengatakan FGD tersebut menjadi ruang bersama untuk membahas berbagai langkah strategis dalam memperkuat daya saing BPR Syariah. “Ada lima tujuan penting yang kami dorong melalui kegiatan ini,” kata Kholid kepada Seputarbank, Rabu (15/9/2026).
Lima agenda tersebut meliputi transformasi BPRS menuju bank yang sehat, tangguh dan berkelanjutan; penguatan manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang baik (GCG); peningkatan kualitas pembiayaan sekaligus penanganan pembiayaan bermasalah; percepatan transformasi digital dan efisiensi operasional; serta penguatan peran BPRS sebagai Islamic Community Bank.
Kholid mengatakan industri BPR Syariah saat ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari konsolidasi industri hingga kebutuhan memperkuat permodalan. Di sisi pembiayaan, BPRS dituntut semakin selektif memilih sektor dan nasabah agar pertumbuhan pembiayaan tidak diikuti peningkatan risiko yang dapat mengganggu kesehatan bank.
Menurutnya, penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin menjadi semakin penting. BPRS harus mampu mengidentifikasi risiko sejak awal, memperkuat kualitas analisis pembiayaan, serta melakukan penanganan secara tepat terhadap pembiayaan bermasalah.
Di sisi lain, perubahan perilaku nasabah juga menuntut BPRS mempercepat transformasi layanan. Kemajuan teknologi membuat masyarakat semakin mengharapkan layanan perbankan yang cepat, mudah, personal, serta didukung sistem digital yang terintegrasi dan modern.
Karena itu, Kholid menilai BPRS perlu naik kelas dan memiliki nilai tambah yang lebih kuat, bukan sekadar menjadi lembaga keuangan. BPRS harus mampu menjadi bagian dari perkembangan masyarakat dengan memanfaatkan kedekatan dan karakter lokal sebagai kekuatan utama.
“BPRS mempunyai ciri pendekatan tersendiri kepada nasabah dengan hadir di tengah komunitas, mengenal budaya lokal, membangun kepercayaan melalui kedekatan dan pendekatan humanis, serta berada di tengah ekosistem UMKM. Dengan modal sosial tersebut, BPRS dapat mendorong perekonomian daerah tumbuh bersama pelaku usaha lokal,” tutup Kholid.