JAKARTA, SEPUTARBANK.COM – Bank Indonesia (BI) menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro mengatakan, pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan tanpa stabilitas yang kuat. Sebaliknya, stabilitas juga harus mampu mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan tanpa stabilitas akan menjadi rentan, stabilitas tanpa pertumbuhan juga akan sia-sia,” ujar Solikin saat meluncurkan Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No. 47 bertajuk Menjaga Resiliensi Sistem Keuangan, Memperkuat Momentum Pertumbuhan Ekonomi, sebagaimana dipublikasikan dalam kanal resmi Bank Indonesia, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, terdapat tiga tantangan utama yang perlu dikelola bersama. Pertama, menjaga ketahanan domestik menghadapi gejolak geopolitik dan ekonomi global. Kedua, mengubah ketahanan sistem keuangan menjadi pembiayaan produktif bagi perekonomian. Ketiga, mengantisipasi risiko baru dari digitalisasi, termasuk risiko siber dan meningkatnya interkoneksi antarlembaga.
BI mengibaratkan resiliensi sistem keuangan seperti bambu yang memiliki akar kuat, tumbuh saling menopang, tetapi tetap lentur menghadapi tekanan.
Karena itu, BI mendorong seluruh pemangku kepentingan tidak hanya mengambil sikap wait and see, tetapi mulai “move forward, but prudently”, yakni berani menangkap peluang pertumbuhan dengan tetap disiplin mengelola risiko.
Sinergi antara pemerintah, BI, OJK, LPS, dan sektor riil dinilai menjadi kunci untuk menjaga sistem keuangan tetap kokoh, adaptif terhadap perubahan, serta produktif dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.