SEPUTARBANK JAKARTA - Tingkat pertumbuhan kredit sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang baru menyentuh angka 1,62%, menjadi sorotan tajam Bank Indonesia (BI). Menyikapi rendahnya pertumbuhan kredit tersebut, BI pun mendesak perbankan nasional untuk tidak sekadar menjadi konsumen produk UMKM, tetapi benar-benar merealisasikan dukungan finansial melalui pembiayaan.
Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa persoalan akses pembiayaan ini merupakan pekerjaan rumah (PR) besar yang harus diselesaikan bersama.
Destry mengimbau agar perbankan lebih giat menyalurkan kredit buat UMKM, yang disampaikannya dalam pembukaan pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di JCC Senayan, Jakarta.
"Bank-bank ayo dong salurkan kredit buat UMKM. Jadi bukan hanya beli, tapi salurkan kredit," imbau Destry.
Langkah percepatan ini, menurut dia, krusial mengingat UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan populasi mencapai sekitar 64 juta unit usaha, sektor ini tercatat menyerap hingga 97% tenaga kerja nasional serta menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sedangkan langkah mendorong pelaku UMKM agar mampu naik kelas hingga menembus pasar internasional, kata Destry, BI menyiapkan serangkaian langkah taktis dan insentif seperti memberikan Fasilitasi Pembiayaan dan Pasar.
Melalui ajang KKI 2026, BI menggelar business matching yang mempertemukan pelaku UMKM langsung dengan pembeli dan penyedia dana.
Kemudian efisiensi transaksi via QRIS, yakni BI resmi memperluas kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) 0% per 17 Agustus 2026. Bebas biaya transaksi ini berlaku hingga nominal Rp100.000 untuk seluruh kategori pedagang, serta hingga Rp500.000 khusus bagi kategori usaha mikro.
Langkah selanjutnya adalah Penguatan Ekosistem Domestik, dengan mendorong penggunaan Kartu Kredit Indonesia (KKI) sebagai instrumen pembayaran mandiri berbasis lokal untuk memperkuat transaksi ekonomi nasional.
Masih dijelaskan Destry, bahwa penyelenggaraan KKI ke-11 ini mengusung misi penguatan kolaborasi agar produk lokal makin tangguh dan berdaya saing global. Pameran ini menghadirkan lebih dari 1.300 UMKM secara daring dan 550 UMKM secara luring.
Seri pameran tahun ini memberi sorotan khusus pada UMKM asal Aceh. Selain memamerkan komoditas unggulan seperti kopi, fesyen, pangan, dan kerajinan tangan, langkah ini menjadi bentuk dukungan konkret BI untuk membangkitkan roda ekonomi para pelaku usaha di Aceh pascabencana banjir.
"Kita terus perkuat kolaborasi dan sinergi dalam membangun UMKM di Indonesia sehingga mempunyai daya saing, dan tidak hanya untuk pasar domestik tapi juga pasar global," tutup Destry.