Lewati ke konten utama
BPR/BPRS 2 Menit Baca

Perluas Akses Permodalan, OJK Pacu Daya Saing Perbankan Syariah dan BPR di Papua Barat dan Papua Barat Daya

H

Henigun

22 August 2026

Perluas Akses Permodalan, OJK Pacu Daya Saing Perbankan Syariah dan BPR di Papua Barat dan Papua Barat Daya
Kepala OJK Papua Barat dan Papua Barat Daya, Budi Rahman.(Foto: Istimewa)

SEPUTARBANK MANOKWARI – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini tengah gencar memacu daya saing industri perbankan di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Papua Barat dan Papua Barat Daya. Upaya itu dilakukan dengan  memberikan perhatian khusus pada efektivitas Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan sektor perbankan syariah d wilayah tersebut.

Langkah lembaga pengawas keuangan tersebut untuk memberikan kemudahan akses permodalan untuk masyarakat serta pelaku usaha lokal.

Kepala OJK Papua Barat dan Papua Barat Daya, Budi Rahman, menekankan bahwa BPR memegang posisi kunci dalam perekonomian daerah. Walaupun secara porsi masih tertinggal jauh dari bank umum, keterikatan BPR yang erat dengan komunitas setempat menjadi kekuatan utama yang patut dioptimalkan.

"BPR memang memiliki pangsa yang kecil, baik dari sisi aset, kredit maupun dana pihak ketiga. Tetapi kedekatannya dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal menjadi keunggulan yang harus terus diperkuat," ungkap Budi Rahman.

Budi menjelaskan, pihaknya mencatat bahwa porsi BPR di wilayah ini memang masih terbatas, yakni aset sebesar 1,09%, penyaluran kredit 1,68%, serta Dana Pihak Ketiga (DPK) di angka 0,7%. Realita angka tersebut mendorong OJK untuk makin gencar membenahi tata kelola, meminimalisir risiko kredit bermasalah, dan menyempurnakan strategi bisnis BPR yang beroperasi di dua provinsi tersebut.

Di sisi lain, perbankan syariah justru mencatatkan tren yang kian menjanjikan. Porsinya di pasar keuangan daerah menunjukkan angka yang terus menanjak. Pangsa Aset sebesar 1,73%, mencapai Rp559,79 miliar atau naik 7,47% secara tahunan

Pangsa Pembiayaan sebesar 1,21%, mencapai Rp232,46 miliar atau melaju 9,47%. Pangsa DPK: 2,90%, mencapai Rp488,60 miliar atau tumbuh 6,48%.

Melihat tren positif ini, Budi Rahman menilai pasar untuk produk keuangan berbasis syariah sangat terbuka lebar, khususnya jika disalurkan ke sektor-sektor produktif.

"Perbankan syariah tidak cukup hanya tumbuh lebih cepat. Kita ingin pertumbuhannya juga menyentuh sektor riil, seperti perdagangan hasil alam, pertanian, perikanan, UMKM, pariwisata, dan pembiayaan berbasis kemitraan," pangkasnya.

Mengenai jangkauan operasional, wilayah Manokwari saat ini ditopang oleh operasional Bank Muamalat, sedangkan Papua Barat Daya telah terjangkau oleh jaringan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Guna memperluas dampak positifnya, OJK mendesak perbankan syariah untuk berani berekspansi, mengadopsi teknologi digital, serta menghadirkan skema pembiayaan baru—seperti lini produk dan tabungan berbasis emas. Lewat penguatan fungsi intermediasi yang terukur dan berhati-hati, perbankan diharapkan mampu menjadi penggerak utama kesejahteraan masyarakat di tanah Papua.

H

Henigun