Lewati ke konten utama
BPR/BPRS 4 Menit Baca

BPRS Dihimpit Daya Beli dan Likuiditas, HIMBARSI Siapkan Strategi Bertahan dan Tumbuh

R

Redaksi

21 August 2026

BPRS Dihimpit Daya Beli dan Likuiditas, HIMBARSI Siapkan Strategi Bertahan dan Tumbuh

SEPUTARBANK, SOLO — Industri Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) menghadapi tantangan yang kian kompleks. Tekanan ekonomi, melemahnya daya beli masyarakat, ketatnya likuiditas, hingga percepatan teknologi menjadi perhatian utama Himpunan Bank Perekonomian Rakyat Syariah Seluruh Indonesia (HIMBARSI) dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2026.

Rakornas HIMBARSI digelar di Hotel Mercure Purwosari, Solo, 20–22 Agustus 2026. Forum tahunan tersebut diikuti 121 perwakilan BPRS dari total 172 anggota aktif HIMBARSI di seluruh Indonesia.

Mengusung tema “Bersinergi, Berprestasi, Menginspirasi untuk Memperkuat Industri”, Rakornas diarahkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi ruang untuk merumuskan strategi bersama menghadapi perubahan industri keuangan.

Rakornas secara resmi dibuka pada Jumat (21/8) oleh Asisten Ekonomi Pembangunan Pemkot Surakarta Tulus Widajat, bersama Kepala OJK, Kepala BI Surakarta, Ketua Umum, serta jajaran pengurus HIMBARSI.

Ketua Umum HIMBARSI Alfi Wijaya mengatakan terdapat sembilan isu strategis yang dibahas melalui sidang komisi dan pleno. Dari berbagai isu tersebut, tekanan terhadap kualitas pembiayaan dan likuiditas menjadi dua persoalan yang paling krusial bagi BPRS saat ini.

Daya Beli Turun, Kualitas Pembiayaan Tertekan

Alfi menjelaskan, tekanan ekonomi nasional mulai terasa secara langsung pada sektor usaha masyarakat. Ketika daya beli melemah, omzet usaha ikut tertekan dan pada akhirnya berdampak terhadap kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajiban pembiayaan.

“Ekonomi penuh tantangan ini, mau tidak mau, daya beli masyarakat menurun. Usaha mereka ikut menurun sehingga kemampuan bayarnya terganggu. Ini berdampak pada kualitas pembiayaan,” ujar Alfi di sela Rakornas.

Menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi BPRS untuk semakin selektif dan hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan.

“BPRS harus melihat situasi ini untuk memecahkan masalah sekaligus mengambil hikmah agar ke depan lebih hati-hati,” katanya.

Likuiditas Makin Ketat

Di sisi lain, industri BPRS juga menghadapi tantangan penghimpunan dana. Persaingan mendapatkan dana masyarakat semakin ketat seiring meningkatnya daya tarik instrumen keuangan pemerintah.

Alfi menyoroti kondisi ketika pemerintah menawarkan produk seperti sukuk ritel dan obligasi negara dengan tingkat imbal hasil yang dinilai kompetitif dibandingkan produk simpanan BPRS. Perbedaan perlakuan pajak turut memengaruhi pilihan pemilik dana.

“Pemerintah menawarkan produk sukuk retail atau obligasi negara yang yield-nya setara BPRS, tapi pajaknya hanya 10 persen, sementara BPRS 20 persen. Otomatis pemilik dana memilih yang yield-nya lebih tinggi,” jelasnya.

Situasi tersebut, lanjut Alfi, menciptakan tekanan ganda bagi BPRS. Di satu sisi kualitas pembiayaan menghadapi tekanan akibat kondisi ekonomi, sementara di sisi lain kemampuan industri menghimpun likuiditas semakin terbatas.

HIMBARSI Dorong Sinergi Produk dan Teknologi

Menghadapi kondisi tersebut, HIMBARSI mendorong penguatan sinergi antar-BPRS. Rakornas 2026 diharapkan menghasilkan konsensus bisnis yang dapat diterapkan bersama, bukan berhenti sebagai forum seremonial.

Salah satu program yang terus diperkuat adalah Tabungan Ukhuwah, yang kini memasuki periode ketiga dan dilengkapi program penarikan undian bersama.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya HIMBARSI meningkatkan budaya menabung di tengah masyarakat sekaligus memperkuat daya saing BPRS.

Tak berhenti pada produk tabungan, HIMBARSI juga menyiapkan langkah yang lebih besar melalui pengembangan infrastruktur teknologi terpadu bagi anggota.

“Setelah hadiahnya sama, ke depan kita pengin punya mobile banking bersama. BPRS tidak perlu bikin sendiri-sendiri, kita bikin secara berjamaah. Perizinan dan infrastrukturnya kami bantu, anggota tinggal pakai,” kata Alfi.

Menurut dia, pendekatan bersama tersebut diharapkan dapat membuat BPRS lebih efisien dalam menghadapi tuntutan transformasi digital, tanpa setiap bank harus membangun infrastruktur teknologi secara sendiri-sendiri.

BPRS Syariah Award Apresiasi Inovasi

Rakornas HIMBARSI 2026 juga menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada BPRS yang mampu mencatatkan kinerja sekaligus inovasi terbaik melalui BPRS Syariah Award.

Penghargaan tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari kinerja keuangan, inovasi penghimpunan dana, penyaluran pembiayaan, hingga pengembangan social finance. 

Alfi menegaskan, apresiasi tersebut diharapkan mendorong BPRS untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas bisnis di tengah persaingan industri jasa keuangan yang semakin ketat.

Dari Solo, HIMBARSI berharap sinergi antar-BPRS semakin kuat, inovasi terus berkembang, dan industri BPRS Syariah mampu melewati tekanan ekonomi sekaligus memanfaatkan peluang transformasi digital untuk tumbuh lebih solid.

R

Redaksi