Lewati ke konten utama
Bank 3 Menit Baca

Perkuat Daya Saing Industri Perbankan, OJK Siapkan Strategi untuk Bank Syariah

H

Henigun

18 October 2026

Perkuat Daya Saing Industri Perbankan, OJK Siapkan Strategi untuk Bank Syariah
Ilustrasi.(Foto: Istimewa)

JAKARTA, SEPUTARBANK - Demi melahirkan bank umum syariah (BUS) baru dengan kapabilitas finansial yang kuat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal terus memacu strategi baru yang dipersiapkan bagi industri perbankan.

Langkah tersebut melalui serangkaian aksi korporasi skala besar, mulai dari pemisahan unit usaha syariah (spin-off UUS) hingga peleburan usaha atau merger antarlembaga. Dengan strategi ini, bank syariah diharapkan mampu bersaing dan mengimbangi dominasi perbankan konvensional di pasar keuangan nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam keterangan tertulisnya, OJK sebagai regulator, akan terus mematangkan peta jalan konsolidasi, untuk menciptakan entitas perbankan syariah yang adaptif dan ekspansif. Skema spin-off UUS, kata Dian, tidak dirancang berdiri sendiri, melainkan diarahkan untuk berujung pada penggabungan kekuatan bisnis antar-pelaku industri.

"OJK berkomitmen dalam mengawal transformasi tersebut. Sejalan dengan RP3SI 2023-2027, OJK mendorong konsolidasi melalui spin-off UUS yang dimungkinkan pula diikuti oleh penggabungan usaha dengan bank syariah lain demi menghadirkan bank syariah yang sehat dan berskala lebih besar," jelas Dian, dikutip Minggu (18/10/2026).

Urgennya langkah konsolidasi ini, lanjutnya, mengemuka di tengah tren positif pertumbuhan aset perbankan syariah sepanjang kurun waktu 2023 hingga 2025.

Dian menjelaskan , berdasarkan catatan OJK, total aset sektor perbankan syariah terus melonjak pesat, dari angka Rp892,17 triliun pada 2023 menjadi Rp980,30 triliun pada 2024. Laju pertumbuhan ini berlanjut hingga mencatatkan rekor bersejarah dengan melampaui ambang batas seribu triliun, tepatnya menyentuh Rp1.067,73 triliun pada akhir 2025, dengan porsi pangsa pasar (market share) aset mendekati angka 7,7 persen.

OJK menilai melesatnya pertumbuhan aset tersebut perlu diimbangi dengan pembenahan struktur kelembagaan agar industri perbankan syariah tidak terpecah dalam entitas berskala kecil. Otoritas optimistis proses pemisahan unit usaha yang sedang berlangsung bakal mencetak BUS baru dengan daya jelajah finansial yang mumpuni.

Dian menyampaikan bahwa kemunculan bank syariah berkapasitas besar menjadi kunci utama dalam memperkokoh fondasi industri secara jangka panjang.

"Diharapkan proses spin-off yang saat ini sedang berjalan nantinya menghasilkan BUS dengan kapasitas yang cukup besar, sehingga menegaskan komitmen OJK memperkuat struktur industri perbankan syariah," terangnya.

Tantangan terbesar perbankan syariah saat ini adalah sengitnya kompetisi melawan konglomerasi bank konvensional yang telah lama mengakar kuat. Tanpa didukung suntikan permodalan yang berkelanjutan, bank syariah berpotensi tertinggal dalam memperebutkan ceruk pembiayaan sektor komersial maupun korporasi skala besar.

Oleh sebab itu, OJK menekankan pentingnya menciptakan efisiensi operasional melalui penyertaan modal yang tebal. "Penguatan permodalan secara berkesinambungan diharapkan dapat mencapai economies of scale yang lebih memadai agar bank syariah lebih kompetitif dan resilien menghadapi bank-bank yang sudah mature dan berskala besar," lanjut Dian.

Demi merealisasikan arsitektur perbankan syariah yang tangguh, OJK kini makin intensif membangun komunikasi dengan para Pemegang Saham Pengendali (PSP). Para investor dan pemilik modal didorong untuk mengambil langkah berani, baik dalam bentuk injeksi modal baru maupun penggabungan entitas bisnis.

Dian menegaskan bahwa percepatan agenda ini membutuhkan keselarasan visi dari para pemangku kepentingan di industri perbankan tanah air.

"Saat ini OJK terus mendorong pemegang saham melakukan penguatan struktur melalui konsolidasi dan peningkatan permodalan guna mengakselerasi bank syariah dan UUS yang lebih berdaya saing di industri perbankan nasional," pungkasnya.

H

Henigun