Lewati ke konten utama
Bisnis 3 Menit Baca

Inalum Tak Lagi Impor Alumina, Hilirisasi Bauksit Hemat Devisa hingga Rp9 Triliun

R

Redaksi

14 October 2026

Inalum Tak Lagi Impor Alumina, Hilirisasi Bauksit Hemat Devisa hingga Rp9 Triliun

JAKARTA, SEPUTARBANK – Hilirisasi bauksit mulai memberikan dampak nyata bagi penguatan industri aluminium nasional. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) kini tidak lagi mengimpor alumina untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produksinya, sehingga Indonesia berpotensi menghemat devisa hingga Rp9 triliun per tahun.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengatakan penghematan tersebut merupakan salah satu manfaat penting dari pengembangan industri pengolahan mineral di dalam negeri. Ketersediaan alumina hasil produksi domestik membuat perusahaan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

“Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun gitu ya. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina,” kata Arif dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/10/2026), dikutip Seputarbank dari pemberitaan Antara.

Inalum yang merupakan anggota holding industri pertambangan MIND ID sebelumnya masih bergantung pada impor alumina untuk mendukung produksi aluminium. Kini, kebutuhan bahan baku tersebut dapat dipenuhi melalui pengembangan rantai industri yang terintegrasi, mulai dari penambangan bauksit, pemurnian menjadi alumina, hingga pengolahan lanjutan menjadi aluminium.

Integrasi tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia. Dengan mengolah bauksit di dalam negeri, manfaat ekonomi tidak hanya diperoleh dari penjualan bahan mentah, tetapi juga dari produk hasil pemurnian yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Untuk memperkuat kemandirian pasokan bahan baku, Inalum bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus mengembangkan ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Kawasan ini mencakup enam proyek, terdiri atas lima proyek di lingkungan Grup MIND ID dan satu proyek milik Pelindo.

Dari sisi hulu, pasokan bauksit ditopang oleh satu izin usaha pertambangan (IUP) milik Antam dan enam IUP milik anak perusahaan Antam. Bijih bauksit tersebut selanjutnya diproses melalui fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) untuk menghasilkan alumina sebagai bahan baku utama industri aluminium.

SGAR fase I saat ini telah beroperasi dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Dari total kapasitas tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Inalum berdasarkan perjanjian jangka panjang, sementara 450 ribu ton lainnya ditujukan untuk ekspor.

Kehadiran SGAR fase I menjadi tonggak penting dalam upaya membangun kemandirian industri aluminium nasional. Selain menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri domestik, fasilitas ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memasok alumina ke pasar internasional.

Pengembangan industri tersebut akan berlanjut melalui pembangunan SGAR fase II. Arif menyampaikan bahwa studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan atau bankable feasibility study (BFS) untuk proyek tersebut telah rampung. Proyek selanjutnya akan memasuki tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) dalam waktu dekat.

Ke depan, penguatan rantai industri bauksit–alumina–aluminium diharapkan mampu memperbesar penghematan devisa sekaligus memperkokoh daya saing industri pengolahan mineral Indonesia. Ketersediaan bahan baku domestik juga menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan berbagai sektor strategis, mulai dari manufaktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV), konstruksi, transportasi, hingga kelistrikan.

Dengan memperkuat hilirisasi, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, tetapi juga memperluas peluang penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun industri aluminium nasional yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.

R

Redaksi