Lewati ke konten utama
Bank 3 Menit Baca

Gerai CERDAS PeKA Resmi Dibuka di UNAIR, BI Dorong Mahasiswa Kenali Risiko Keuangan Digital

R

Redaksi

3 October 2026

Gerai CERDAS PeKA Resmi Dibuka di UNAIR, BI Dorong Mahasiswa Kenali Risiko Keuangan Digital
Foto: Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta (kedua dari kiri) saat memotong pita peresmian Gerai Cerdas PeKA di kampus Unair.

SEPUTARBANK, SURABAYA – Bank Indonesia (BI) mendorong mahasiswa tidak hanya piawai memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga memiliki kemampuan mengenali dan mengelola risiko saat menggunakan layanan keuangan digital.

Pesan tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta saat meresmikan Gerai CERDAS PeKA di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jumat (2/10/2026).

Dikutip Seputarbank dari rilis yang dikeluarkan Bank Indonesia, Jum'at (02/10/2026), Filianingsih mengatakan kecakapan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan mengambil keputusan secara kritis dan bertanggung jawab. Mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada status digital savvy, tetapi berkembang menjadi generasi yang juga risk savvy.

Menurutnya, penipuan digital kerap memanfaatkan kepanikan, kepercayaan, maupun desakan agar seseorang segera mengambil keputusan. Kondisi tersebut dapat membuat konsumen melakukan transaksi tanpa terlebih dahulu melakukan verifikasi.

Karena itu, mahasiswa diminta membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak sebelum bertransaksi, memeriksa informasi melalui kanal resmi, menjaga data pribadi, serta mengetahui dan menggunakan kanal pengaduan apabila menghadapi permasalahan.

“Mengetahui kanal pengaduan dan berani melapor bukan tanda kelemahan. Itu adalah bentuk keberdayaan konsumen,” ujar Filianingsih.

Akses Keuangan Harus Diikuti Literasi

BI menilai peningkatan akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi dan keberdayaan konsumen.

“Kecepatan transaksi harus diimbangi dengan kecepatan literasi. Karena akses tanpa pemahaman dapat menciptakan kerentanan, sementara inovasi tanpa kepercayaan tidak akan berkelanjutan,” tegas Filianingsih.

Tantangan tersebut semakin relevan di tengah tingginya penggunaan layanan pembayaran digital oleh generasi muda. Hingga Agustus 2026, transaksi QRIS secara kumulatif sejak awal tahun telah mencapai 17,45 miliar transaksi, dengan jumlah pengguna mencapai 69,32 juta dan merchant sebanyak 47,11 juta.

Di sisi lain, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun mencapai 95,69 persen, sedangkan indeks literasinya berada di angka 73,32 persen.

Data tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara akses dan pemahaman. Karena itu, perluasan penggunaan layanan keuangan digital perlu dibarengi dengan kemampuan konsumen memahami produk, mengenali risiko, serta mengambil keputusan secara aman dan bertanggung jawab.

Gerai CERDAS PeKA Jadi Ruang Edukasi di Kampus

Gerai CERDAS PeKA atau Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia – Peduli, Kenali, Adukan merupakan hasil kolaborasi BI, UNAIR, dan PERBANAS.

Gerai ini dirancang sebagai ruang edukasi, diskusi, dan konsultasi yang mendekatkan isu pelindungan konsumen dengan lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa dapat memperoleh informasi mengenai produk dan layanan keuangan, risiko transaksi digital, hingga mekanisme serta kanal pengaduan.

Melalui inisiatif tersebut, mahasiswa juga didorong menjadi agen edukasi dengan membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada lingkungan kampus, komunitas, dan masyarakat sekitar.

Program tersebut merupakan bagian dari Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK) yang mengedepankan tiga pendekatan, yakni Peduli, Kenali, dan Adukan.

Peduli berarti membangun kesadaran bahwa keamanan transaksi merupakan tanggung jawab bersama. Kenali berarti membiasakan konsumen memeriksa informasi, memahami produk, dan mengenali risikonya. Sementara Adukan mendorong konsumen mengetahui serta memanfaatkan kanal pengaduan yang tepat ketika menghadapi persoalan.

“Literasi yang paling kuat bukan literasi yang hanya diketahui, tetapi literasi yang menjadi kebiasaan dalam mengambil keputusan sehari-hari,” ungkap Filianingsih.

Kolaborasi Perkuat Pelindungan Konsumen

Dalam menghadapi rekayasa sosial dan penipuan digital lintas platform, Filianingsih menekankan pentingnya kolaborasi antara regulator, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Regulator berperan memperkuat kebijakan dan sistem pengamanan, sementara industri dituntut memastikan keamanan produk dan layanan serta memberikan perlakuan yang bertanggung jawab kepada konsumen. Perguruan tinggi memperluas edukasi, sedangkan masyarakat berperan membangun kewaspadaan dalam setiap transaksi.

Upaya tersebut sejalan dengan arah Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6 Tahun 2026 tentang Pelindungan Konsumen.

“Digitalisasi membuka kesempatan, literasi membangun keberdayaan, dan kolaborasi menjaga kepercayaan,” ujar Filianingsih.

Kehadiran Gerai CERDAS PeKA di UNAIR diharapkan menjadi awal pengembangan inisiatif serupa secara berkelanjutan. BI juga akan terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, asosiasi, dan industri sistem pembayaran untuk memperluas edukasi serta pelindungan konsumen, khususnya bagi generasi muda.

R

Redaksi