JAKARTA, SEPUTARBANK - Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) dinilai mempunyai peran strategis dalam memperluas akses layanan keuangan, utamanya bagi masyarakat dan pelaku usaha di daerah.
Atas dasar penilaian tersebut, PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) mempertegas komitmennya dalam menopang penguatan ekosistem BPR dan BPRS di Indonesia
Penguatan dukungan itu dilakukan melalui kolaborasi, serta penyediaan ekosistem solusi finansial berbasis digital yang terpadu bagi BPR dan BPRS.
Herwin Bustaman, Chief Syariah Wholesale Banking, Strategy & Finance CIMB Niaga, menegaskan bahwa kedekatan geografis dan emosional BPR/BPRS dengan para pelaku usaha di daerah, mendorong lembaga finansial itu sebagai elemen penting dalam peta perbankan nasional.
“BPR dan BPRS merupakan mitra penting dalam ekosistem keuangan nasional, karena memiliki kedekatan dengan masyarakat dan pelaku usaha di daerah. Karena itu, kami terus memperkuat kolaborasi dengan BPR dan BPRS melalui berbagai solusi perbankan yang komprehensif,” terang Herwin, dikutip Rabu (16/9/2026).
Layanan komprehensif yang dihadirkan, lanjut dia, meliputi transaction banking, cash management, hingga adopsi fitur-fitur digital yang dirancang untuk mendongkrak efisiensi operasional sekaligus daya saing bisnis bank daerah.
Herwin menjelaskan, CIMB Niaga menyediakan rangkaian produk keuangan guna mendukung tata kelola likuiditas, alokasi dana, serta kelancaran transaksi harian BPR dan BPRS.
Ragam kemudahan yang disiapkan, kata dia, mencakup integrasi sistem via Application Programming Interface (API), platform cash management OCTOBIZ, Corporate Debit Card, layanan payment point online, dompet digital OCTO Pay, fasilitas QRIS Merchant, hingga jaringan kemitraan solusi haji.
"Sederet fasilitas ini diposisikan sebagai one-stop financial solutions demi mempermudah BPR dan BPRS dalam mengelola transaksi harian secara lebih adaptif dan efisien," ujarnya
“Melalui layanan terintegrasi tersebut, CIMB Niaga berupaya membantu BPR dan BPRS mengelola likuiditas sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi perbankan sehari-hari,” sambung Herwin.
Upaya perkuatan kolaborasi ini sejalan dengan catatan positif pertumbuhan industri BPR dan BPRS nasional berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Hingga kurun Maret 2026, akumulasi aset industri BPR dan BPRS berhasil tumbuh 3,70 persen secara year-on-year (yoy), dengan total mencapai Rp236,69 triliun.
Sektor pembiayaan dan penyaluran kredit juga mencatatkan kenaikan 2,83 persen (yoy) menjadi Rp176,96 triliun. Capaian ini ditopang oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 3,16 persen (yoy) hingga menginjak angka Rp165,49 triliun.
Selain itu, struktur permodalan industri BPR dan BPRS tergolong sangat solid dalam memitigasi risiko bisnis, tercermin dari rata-rata rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) agregat sebesar 27,20 persen—posisi yang berada jauh di atas batas ambang batas minimum yang ditetapkan regulator.