BANDUNG, SEPUTARBANK - Prestasi membanggakan berhasil diraih PT Bank Perekonomian Rakyat Tata Asia (Bank Tata Asia) di ajang INFOBANK 17th BPR Award 2026.
Berkat tata kelola manajemen yang matang, serta konsistensi perseroan dalam menekan risiko kredit di tengah ekspansi bisnis yang agresif, Bank Tata Asia berhasil menyabet penghargaan The Best Performance BPR untuk kategori BPR Berkinerja Terbaik pada Kelas Aset Rp500 Miliar hingga Rp1 Triliun.
Pencapaian ini merupakan wujud dedikasi kolektif dari jajaran pemegang saham, manajemen, hingga seluruh karyawan dalam menjaga fundamental sekaligus memacu pertumbuhan perseroan.
Seperti yang diungkapkan Direktur Utama Bank Tata Asia, TB Frandy Priya Purwanto.
“Penilaian objektif dari Infobank memberikan nilai tambah bagi kami maupun industri BPR secara keseluruhan. Capaian ini berkat kerja keras seluruh insan Bank Tata Asia dan pemegang saham. Hasil evaluasi ini menjadi acuan jelas bagi kami untuk berbenah dan meningkatkan kualitas operasional. Kami juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kepercayaan para nasabah,” ungkap Frandy.
Aset Melesat Lewati Rp1 Triliun
Frangky menjelaskan, raihan penghargaan ini sejalan dengan realisasi kinerja keuangan Bank Tata Asia yang menunjukkan tren positif.
Per Agustus 2026, total aset perseroan resmi melampaui angka Rp1,00 triliun (tepatnya Rp1.000,67 miliar), atau melonjak sekitar 40,5% dibandingkan posisi akhir 2025 yang tercatat sebesar Rp712,43 miliar.
Lompatan aset tersebut didorong oleh ekspansi penyaluran kredit yang terukur serta optimalisasi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) melalui instrumen tabungan dan deposito.
Dari sisi profitabilitas, per Agustus 2026 Bank Tata Asia mengantongi laba bersih Rp20,79 miliar. Angka ini telah melampaui pencapaian laba bersih sepanjang tahun 2025 yang sebesar Rp14,51 miliar. Sementara itu, indikator Return on Asset (ROA) berada di level 4,64% dan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) tercatat solid di angka 22,49%.
Di tengah laju pertumbuhan bisnis, Bank Tata Asia tetap memprioritaskan prinsip kehati-hatian. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross per Agustus 2026 berhasil ditekan di level 1,20%.
Guna mempertahankan portofolio kredit yang sehat, perseroan menerapkan skema early warning system, stress test, serta evaluasi berkala sebagai pilar pengawasan risiko.
Frandy menegaskan, pembesaran skala bisnis harus berbanding lurus dengan kemampuan menjaga kesehatan bank dan kualitas aset. Menurutnya, hal tersebut merupakan fondasi utama dalam memelihara kepercayaan masyarakat.
“Tingkat Kesehatan Bank (TKS) kami berada dalam kondisi sehat. Ini adalah pilar utama bagi nasabah dalam menilai sebuah lembaga perbankan. Oleh karena itu, pertumbuhan bisnis wajib berjalan seiring dengan penguatan fundamental dan mutu kredit,” jelasnya.
Fokus Penguatan Layanan dan Teknologi
Penghargaan di ajang INFOBANK 17th BPR Award 2026 ini dipandang bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai pijakan untuk mengevaluasi diri serta meningkatkan kapasitas organisasi menuju fase ekspansi berikutnya.
“Penghargaan ini menjadi dorongan bagi Bank Tata Asia untuk menangkap peluang pasar yang lebih luas. Kami berkomitmen terus memperkuat infrastruktur teknologi, meningkatkan mutu layanan, menjaga kehati-hatian kredit, serta memberikan nilai tambah yang optimal bagi seluruh stakeholders,” tambah Frandy.
Ke depan, Bank Tata Asia akan melanjutkan strategi pengembangan bisnis secara berkelanjutan dengan berfokus pada manajemen risiko, keandalan teknologi, pemantapan kapasitas pembiayaan, serta peningkatan engagement dengan para nasabah.