Lewati ke konten utama
NASIONAL 3 Menit Baca

Kemenkes Hidupkan Lagi Program Dokter Teladan, Tenaga Medis di Daerah Dapat Prioritas Karier

R

Redaksi

28 August 2026

Kemenkes Hidupkan Lagi Program Dokter Teladan, Tenaga Medis di Daerah Dapat Prioritas Karier
Foto: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

SEPUTARBANK, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah merancang pengaktifan kembali program penghargaan Dokter Teladan sebagai bentuk apresiasi bagi tenaga medis yang memiliki dedikasi tinggi dalam memberikan pelayanan kesehatan di wilayah terpencil dan daerah dengan keterbatasan akses.

Program tersebut bukan merupakan konsep baru. Penghargaan Dokter Teladan pernah diterapkan pemerintah pada era Presiden Soeharto, terutama pada dekade 1970-an hingga 1980-an, untuk memberikan pengakuan kepada dokter dan tenaga kesehatan yang mengabdikan diri di pelosok negeri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah ingin menghadirkan kembali sistem penghargaan tersebut dengan manfaat yang lebih konkret bagi penerimanya. Menurutnya, penghargaan tidak cukup hanya berupa pengakuan, tetapi juga perlu memberikan nilai tambah terhadap perjalanan karier tenaga kesehatan.

“Dulu waktu zamannya Pak Harto, nama ‘Dokter Teladan’ itu recognition-nya bagus sekali. Kita ingin membangun lagi sistem Dokter-Dokter Teladan ini, sehingga orang-orang yang bekerja di daerah itu memang mendapatkan rekognisi yang berbeda,” ujar Budi dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR, Kamis (27/8/2026) yang terpantau melalui kanal YouTube TV Parlemen.

Budi menjelaskan, predikat Dokter Teladan nantinya dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong tenaga medis agar tidak hanya bersedia ditempatkan di daerah, tetapi juga memiliki motivasi untuk bertahan dan membangun pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.

Sebagai bentuk penghargaan, tenaga kesehatan yang memperoleh predikat tersebut direncanakan mendapatkan sejumlah prioritas, termasuk kesempatan mengikuti pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit atau hospital-based, beasiswa pendidikan, hingga peluang pengembangan karier di fasilitas kesehatan yang dikelola Kemenkes.

“Kalau perlu beasiswa pendidikan yang berbeda, dan kalau perlu saya bilang ke Pak Aco (Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya), bisa kerja di rumah sakit Kemenkes,” kata Budi.

Selain menghidupkan kembali program Dokter Teladan, Kemenkes juga menyiapkan perluasan akses beasiswa pendidikan dokter spesialis dan program fellowship maupun pendidikan lanjutan bagi dokter. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi kesenjangan ketersediaan tenaga medis antara wilayah perkotaan dan daerah.

Budi mengatakan, skema pemberian beasiswa juga dapat mempertimbangkan asal daerah calon penerima. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan peluang tenaga kesehatan untuk kembali dan mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.

“Kalau kita mau kasih beasiswa dokter gigi, kita nanti akan pastikan orang Jakarta susah dapatnya. Orang Jakarta yang dapat rekomendasi dari Nias, itu prioritas nomor dua. Karena biasa kan dia kabur habis lima tahun, yang prioritas nomor satu adalah orang Nias,” tegasnya.

Menurut Budi, kebijakan berbasis asal daerah tersebut penting untuk menciptakan pola distribusi tenaga kesehatan yang lebih berkelanjutan. Pemerintah berharap tenaga medis yang memperoleh dukungan pendidikan memiliki keterikatan lebih kuat dengan daerah yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Dengan menggabungkan penghargaan, insentif pengembangan karier, serta perluasan akses pendidikan, Kemenkes berharap semakin banyak tenaga medis yang terdorong untuk mengabdi di wilayah terpencil. Program Dokter Teladan pun diproyeksikan menjadi salah satu upaya memperkuat pemerataan layanan kesehatan sekaligus memberikan penghargaan nyata bagi tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan masyarakat. (Sumber : Net/kmps)

R

Redaksi