Intermediasi Solid, OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Lampung Jadi Pondasi Kuat Ekonomi Daerah

Intermediasi Solid, OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Lampung Jadi Pondasi Kuat Ekonomi Daerah


SEPUTARBANK BANDAR LAMPUNG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah ini berada dalam kondisi yang sehat dan kokoh. Kinerja yang resilien tersebut diproyeksikan mampu menjadi bantalan sekaligus stimulus utama bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian pasar global.

Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, menjelaskan bahwa ketangguhan sektor keuangan ini tecermin dari realisasi penyaluran kredit perbankan yang menyentuh angka Rp114,57 triliun atau tumbuh 5,35 persen secara year-on-year (yoy) hingga pertengahan tahun 2026. Di saat yang sama, penghimpunan dana masyarakat juga mencatatkan rapor positif dengan kenaikan sebesar 8,77 persen (yoy).

“Kondisi sektor jasa keuangan Lampung sepanjang Semester I 2026 ini tetap sehat, memiliki daya tahan tinggi, dan fungsi intermediasinya berjalan optimal. Fokus kami saat ini tidak sekadar mempertahankan stabilitas angka-angka tersebut, tetapi memastikan bahwa industri keuangan benar-benar hadir untuk menyokong penetrasi UMKM dan percepatan pembangunan di daerah,” ungkap Otto.

Ketahanan ini didukung oleh masifnya jaringan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) di Lampung. Pada sektor perbankan, operasional ditopang oleh 1 Kantor Pusat BPD Lampung, 23 BPR, 11 BPR Syariah, serta puluhan kantor cabang bank umum konvensional dan syariah.

Sementara sektor IKNB diperkuat oleh 162 kantor cabang perusahaan pembiayaan, 9 LKM, dan entitas lainnya. Di ceruk pasar modal, infrastruktur diperkokoh oleh 1 Kantor Perwakilan BEI, 7 Perusahaan Efek, 8 Emiten lokal, hingga 18 Galeri Investasi.

Secara rinci, ekspansi kredit perbankan senilai Rp114,57 triliun (naik Rp5,81 triliun) tersebut didorong oleh tiga pilar alokasi utama:

- Kredit Modal Kerja: Rp54,64 triliun (tumbuh 2,17% yoy)

- Kredit Investasi: Rp18,93 triliun (tumbuh 9,00% yoy)

- Kredit Konsumsi: Rp40,99 triliun (tumbuh 8,15% yoy)

Meskipun fungsi intermediasi dipacu, risiko kredit tetap termitigasi dengan baik. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross terkendali di level 2,73 persen (nominal Rp3,13 triliun), dengan NPL net yang sangat sehat di angka 1,31 persen. Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) bertumbuh menjadi Rp75,20 triliun (naik Rp6,06 triliun), ditopang oleh instrumen Tabungan sebesar Rp43,35 triliun, Deposito Rp19,77 triliun, dan Giro Rp12,08 triliun.

Berdasarkan lokasi proyek per sektor ekonomi, kontribusi kredit Bank Umum didominasi oleh Industri Pengolahan sebesar 23,6 persen (Rp22,47 triliun), disusul Perdagangan Besar dan Eceran 22,2 persen (Rp21,18 triliun), serta Sektor Rumah Tangga 19,4 persen (Rp18,52 triliun). Namun, jika dilihat dari spasial kantor perbankan, total kredit senilai Rp88.704,26 miliar masih terkonsentrasi di Kota Bandar Lampung (57,86% atau Rp51.314,38 miliar) dan Kota Metro (10,43% atau Rp9.256,07 militar).

Kinerja moncer juga ditunjukkan oleh sektor Keuangan Non-Bank per Maret 2026, di mana outstanding piutang P2P Lending menembus Rp1,55 triliun dan aset Dana Pensiun tercatat Rp199,05 miliar. Minat pasar terhadap investasi juga tumbuh signifikan, yang dibuktikan dengan pencapaian 203.565 Single Investor Identification (SID) di Lampung dengan akumulasi nilai transaksi saham mencapai Rp3,22 triliun.

Selain memantau pertumbuhan bisnis, OJK Lampung secara agresif menjalankan fungsi edukasi melalui pelaksanaan 35 kegiatan literasi keuangan kepada 8.315 peserta dari berbagai kalangan. Sepanjang Semester I-2026, OJK juga memproses 4.660 layanan konsumen serta merampungkan 11.620 layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

Akselerasi keuangan di tingkat akar rumput juga dioptimalkan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) lewat sejumlah inovasi:

KNMP Desa Perkasa: Dorongan digitalisasi ekonomi di Kampung Nelayan Margasari dan Sukorahayu, Lampung Timur.

Bank Sampah Sekolah: Konversi sampah menjadi tabungan di 5 SMA/SMK percontohan di Bandar Lampung guna menjaring rekening Simpanan Pelajar (SimPel).

EPIKS (Ekosistem Pesantren Inklusif Keuangan Syariah): Integrasi edukasi keuangan syariah dan pembukaan rekening tabungan/efek bagi santri di Ponpes Al-Ghifari Lampung Timur dan Al-Muhsin Metro.

Menatap paruh kedua tahun ini, OJK optimistis industri keuangan di Lampung akan terus melaju secara inklusif melalui kerja sama yang erat dengan pemda, pelaku usaha, dan media massa.