Diplomasi Dagang Prabowo-Trump: Indonesia Amankan Penurunan Tarif hingga Fasilitas 0 Persen

JAKARTA — Kepiawaian diplomasi Presiden Prabowo Subianto di kancah internasional membuahkan hasil signifikan bagi sektor perdagangan nasional.

Indonesia berhasil menegosiasikan penurunan tarif ekspor ke Amerika Serikat, dari yang semula berpotensi menyentuh angka 32 persen di bawah kebijakan Presiden Donald Trump, kini ditekan menjadi 19 persen.

Tak hanya sekadar penurunan tarif umum, Indonesia juga mengamankan fasilitas tarif 0 persen untuk berbagai komoditas strategis. Tercatat ada 1.819 pos tarif yang mendapatkan akses preferensial tersebut, mencakup sektor-sektor kunci seperti minyak sawit, kakao, rempah-rempah, dan karet.

Sedangkan sektor Teknologi & Industri, ada Komponen elektronik, semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang.

Capaian gemilang ini menuai pujian dari Ketua DPD RI, Sultan Baktiar Najamudin. Dalam keterangan resminya pada Senin (23/2), Sultan menilai keberhasilan ini sebagai bukti nyata ketangguhan prinsip politik bebas aktif Indonesia di tengah gejolak geopolitik global.

Menurut Sultan, kesepakatan ini lahir dari visi yang sejalan antara kedua pemimpin negara G20 tersebut dalam membangun ekonomi sekaligus menjaga perdamaian dunia.

“Selisih tarif yang timpang di pasar global sangat menentukan daya saing harga. Keberhasilan ini adalah bukti kepiawaian Presiden Prabowo dalam memposisikan Indonesia di antara kekuatan besar dunia,” ujar Sultan.

Sultan menekankan bahwa dampak dari diplomasi ini tidak hanya dirasakan di level makro, tetapi akan meresap hingga ke tingkat desa. Ia optimis kebijakan ini akan memperkuat Koperasi Merah Putih.

Selain itu juga akan menjadi motor penggerak ekonomi berbasis kerakyatan di setiap pelosok, serta peluang lainnya adalah menciptakan lapangan kerja, dengan membuka jutaan peluang kerja baru di sektor rill Indonesia.

Menindaklanjuti “kado” diplomasi ini, Ketua DPD RI mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera berbenah. Ia meminta daerah proaktif menyiapkan ekosistem hilirisasi untuk komoditas unggulan masing-masing.

“Pemda harus bergerak cepat menyambut peluang ini dengan mengembangkan komoditas ekspor melalui wadah Koperasi Merah Putih. Ekosistem hilirisasi harus segera disiapkan agar nilai tambah produk kita maksimal di pasar internasional,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *