YOGYAKARTA, SEPUTARBANK - Penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS), khususnya dalam optimalisasi penyaluran Kredit Usaha Mikro (KUM) serta efektivitas penanganan penunggakan kredit menjadi salah satu fokus utama upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meningkatkan daya saing Lembaga Jasa Keuangan (LJK) di wilayahnya.
Dalam sambutannya saat membuka gelaran Evaluasi Kinerja LJK Wilayah DIY Semester II Tahun 2026, Kepala OJK DIY, Eko Yunianto menekankan
urgensi penguatan SDM tersebut
Pada even yang dirangkaikan dengan Seminar Implementasi Kredit Usaha Mikro dan Manajemen Tunggakan, di Yogyakarta, Senin (26/10) itu, Eko menegaskan bahwa sektor perbankan tetap menjadi pilar utama kegiatan intermediasi keuangan di DIY.
"Kami optimistis pondasi industri jasa keuangan di daerah ini akan terus terjaga kokoh hingga penghujung tahun,” ujar Eko.
Optimisme tersebut dibuktikan melalui kinerja perbankan di DIY yang mengalami pertumbuhan positif hingga Agustus 2026, dengan catatan:
- Total Aset yang meningkat 4,69 persen (year-on-year) mencapai Rp119,35 triliun.
- Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4,56 persen menjadi Rp99,10 triliun.
- Total Penyaluran Kredit/Pembiayaan tercatat sebesar Rp64,75 triliun.
- Penyaluran Kredit/Pembiayaan UMKM, menyerap anggaran sebesar Rp27,51 triliun.
Secara sektoral, penyaluran kredit di DIY masih didominasi oleh tiga pilar utama, yakni: Sektor Rumah Tangga: Rp17,89 triliun, Perdagangan Besar dan Eceran: Rp12,91 triliun, dan Sektor Konstruksi: Rp8,61 triliun
Melihat dominasi ketiga sektor tersebut sebagai motor penggerak ekonomi lokal, OJK DIY mendorong LJK untuk mulai memperluas diversifikasi pembiayaan ke sektor-sektor produktif lainnya yang berpotensi tumbuh tinggi.
Di balik pertumbuhan pembiayaan yang agresif, OJK mengingatkan pentingnya menjaga kualitas aset. Saat ini, rasio Non-Performing Loan (NPL) perbankan di DIY berada pada level 5,48 persen, sementara NPL khusus sektor UMKM berada di angka 8,32 persen.
Kondisi tersebut menjadi alarm bagi industri perbankan untuk tetap selektif dan berhati-hati. Perluasan akses pembiayaan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas manajemen risiko serta kapasitas SDM agar penyaluran kredit tetap produktif dan berkelanjutan.
Guna menjawab tantangan kualitas kredit tersebut, OJK DIY menggandeng German Sparkassenstiftung for International Cooperation (DSIK) dan Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) DPD DIY dalam menyelenggarakan seminar pelatihan tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari recycling program yang rutin digelar OJK DIY. Melalui pelatihan terstruktur ini, SDM BPR dan BPRS diharapkan mampu mengimplementasikan praktik terbaik dalam penyaluran pembiayaan mikro sekaligus menerapkan strategi penanganan tunggakan yang terukur.
Ke depan, OJK DIY berkomitmen untuk terus mempererat sinergi dengan berbagai mitra strategis demi menciptakan sektor keuangan daerah yang sehat, berkualitas, serta mampu menopang pertumbuhan UMKM dan perekonomian DIY secara berkelanjutan.