Lewati ke konten utama
NASIONAL 2 Menit Baca

Harga Cabai Setara Daging, BI Soroti Masalah Pasokan dan Distribusi Pangan Nasional

H

Henigun

31 October 2026

Harga Cabai Setara Daging, BI Soroti Masalah Pasokan dan Distribusi Pangan Nasional
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti pada Rapimnas Kadin 2026.(Foto: Istimewa)

JAKARTA, SEPUTARBANK — Melonjaknya harga cabai di pasaran dinilai berada pada tingkat mengkhawatirkan. Lonjakan ini dinilai fantastis, pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir, harga cabai per kilogram dilaporkan telah menyamai harga satu kilogram daging.

Penilaian ini diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, yang mengatasnamakan bahwa lonjakan harga cabai ini menjadi salah satu tantangan berat dalam mengendalikan inflasi pangan bergejolak (volatile food) di tanah air.

Desti menyampaikan hal ini dalam acara Rapimnas Kadin 2026, Sabtu (31/10/2026).

Ia menegaskan, persoalan inflasi pangan tidak dapat diselesaikan semata-mata melalui instrumen kebijakan moneter. Hal ini dikarenakan akar permasalahan komoditas pangan utamanya bersumber dari hambatan di sisi pasokan (supply side).

"Cabai ini harganya naik luar biasa, harga cabai satu kilo sudah seperti harga daging satu kilo. Ini menjadi PR besar," ujar Destry.

Keterbatasan Kebijakan Moneter dalam Mengatasi Inflasi Pangan

Menurut Destry, karakteristik tekanan inflasi pada sektor pangan berbeda dengan inflasi yang dipicu oleh tingginya permintaan pasar (demand side). Oleh karena itu, intervensi yang hanya membatasi permintaan justru berisiko menekan roda perekonomian tanpa menyelesaikan akar masalah di rantai pasok.

"Inflasi di volatile food itu kan supply side. Tidak mungkin bisa selesai hanya dengan kebijakan yang mengarah ke demand side, yang ada justru perekonomian bisa tertahan dan tidak bergerak," jelasnya.

Selain komoditas cabai, Destry juga menyinggung kendala distribusi pada komoditas beras. Meskipun cadangan beras nasional mencatatkan rekor tertinggi mencapai 4,9 juta ton, harga di tingkat konsumen masih dibayangi tekanan akibat jalur distribusi yang belum optimal.

"Stok beras itu sebenarnya melimpah, mencapai 4,9 juta ton dan merupakan rekor tertinggi (the highest ever). Namun, tampaknya ada kendala di jalur distribusi yang perlu mendapat perhatian serius," ungkapnya.

Perlunya Sinergi dan Koordinasi Lintas Sektor

Destry menekankan bahwa upaya meredam lonjakan harga pangan memerlukan tindakan nyata di tingkat produksi dan efisiensi rantai pasok. Langkah-langkah tersebut berada di luar ranah moneter sehingga membutuhkan eksekusi langsung dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, BI telah menyampaikan situasi inflasi pangan dan kendala distribusi ini langsung kepada Presiden agar segera mendapatkan penanganan terpadu.

"Persoalan ini sudah kami sampaikan kepada Bapak Presiden, karena Bank Indonesia tidak mungkin menyelesaikan tantangan pasokan ini sendirian," pungkas Destry.

H

Henigun