CIREBON, SEPUTARBANK - Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) sukses menggelontorkan pembiayaan hingga menembus angka Rp1,79 triliun, sepanjang semester pertama tahun 2026 (Januari–Juni).
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon, Agus Muntholib, dalam keterangan resminya menerangkan bahwa dana pinjaman dari BPR tersebut terdistribusi ke berbagai bidang usaha. Porsi paling dominan diserap oleh sektor bukan lapangan usaha lainnya, diikuti oleh bidang perdagangan besar serta eceran.
Melihat rincian data dari catatan OJK Cirebon, porsi terbesar, yakni 42,78 persen dari total kredit BPR, mengalir ke sektor bukan lapangan usaha lainnya. Sementara itu, aktivitas perdagangan besar dan eceran menyerap porsi sebesar 35,26 persen.
"Penyaluran kredit BPR tersebut tersebar pada sejumlah sektor ekonomi dengan porsi terbesar berasal dari sektor bukan lapangan usaha lainnya, serta perdagangan besar dan eceran,” kata Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib di Cirebon, Kamis
Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya, lanjut Agus, antara lain sektor bukan lapangan usaha rumah tangga yang mengambil porsi 8,23 persen. Selanjutnya, bidang pertanian, perburuan, dan kehutanan menyerap 3,42 persen, disusul sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan, dan perorangan lainnya yang mencatatkan porsi 3,34 persen.
Dilihat berdasarkan kriteria pemanfaatannya, pinjaman untuk kebutuhan konsumsi menjadi yang paling mendominasi, dengan realisasi menyentuh Rp917,23 miliar per Juni 2026. Meski demikian, capaian pembiayaan konsumtif ini tercatat melandai 0,03 persen dari posisi Mei 2026, serta terkoreksi hingga 40,58 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Juni 2025.
Sementara itu, alokasi kredit untuk modal kerja terbukti mencapai Rp826,68 miliar. Angka ini mengalami penurunan tipis 1,62 persen secara bulanan (m-to-m) dan menyusut 14,40 persen secara tahunan (y-o-y). Di sisi lain, tren positif justru ditunjukkan oleh kredit investasi yang mampu menyentuh Rp49,01 miliar, atau naik sebesar 4,47 persen jika disandingkan dengan realisasi pada Mei 2026.
Mengenai penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), Agus memaparkan bahwa BPR di area Ciayumajakuning berhasil membukukan akumulasi dana masyarakat sebesar Rp1,85 triliun hingga Juni 2026. Angka penghimpunan tersebut terkoreksi sebesar 5,24 persen secara bulanan dan mengalami penurunan 11,92 persen dibandingkan tahun lalu.
Terkait kepemilikan aset, industri BPR di wilayah operasional Ciayumajakuning mengantongi nilai total Rp2,40 triliun pada Juni 2026. Nominal aset tersebut tercatat menyusut 4,21 persen dari bulan Mei 2026, serta mengalami penurunan 8,81 persen secara tahunan.
Di tengah dinamika tersebut, kualitas pembiayaan menunjukkan perbaikan yang ditandai dengan melandainya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Tingkat NPL BPR di kawasan ini berada di posisi 16,61 persen per Juni 2026, membaik dengan penurunan 2,12 poin persentase bila dibandingkan angka pada Juni 2025.
Guna melengkapi keterangannya, Agus menyampaikan bahwa keberadaan BPR di Ciayumajakuning memegang peranan krusial terhadap peta keuangan Jawa Barat. Wilayah ini menyumbangkan kontribusi sebesar 18,81 persen untuk total aset, 18,69 persen untuk penyaluran pembiayaan, serta 20,33 persen untuk penyerapan DPK dari keseluruhan indikator industri BPR se-Provinsi Jawa Barat.
Secara khusus untuk aspek pembiayaan, ia menegaskan kembali bahwa porsi kredit yang disalurkan oleh BPR Ciayumajakuning menyumbang hingga 18,69 persen dari akumulasi pembiayaan BPR di seluruh wilayah Jawa Barat pada Juni 2026.