SEPUTARBANK JAKARTA – Langkah strategis diambil oleh dua institusi besar di Indonesia demi mempermudah akses kepemilikan hunian bagi para pekerja. BPJS Ketenagakerjaan resmi menjalin kolaborasi dengan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sebagai bank penyalur Manfaat Layanan Tambahan (MLT) perumahan berbasis syariah.
Sinergi ini dirancang khusus untuk memperluas kesempatan para pekerja dalam mendapatkan tempat tinggal yang layak sekaligus terjangkau.
Komitmen bersama ini dikukuhkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berlangsung di Grha BPJAMSOSTEK, Jakarta, pada Jumat (10/7/2026).
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, mengungkapkan bahwa kemitraan dengan bank syariah milik negara ini menyuguhkan opsi baru yang segar bagi para peserta yang mendambakan pembiayaan rumah dengan prinsip syariah.
“Kami menyambut baik kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia yang akan menghadirkan alternatif pembiayaan berbasis syariah bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan,” tutur Saiful sesaat setelah prosesi penandatanganan PKS di Jakarta.
Melalui payung kemitraan ini, para peserta BPJS Ketenagakerjaan kini dapat memanfaatkan beragam instrumen MLT perumahan yang disediakan oleh BSI. Layanan tersebut mencakup Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Pinjaman Renovasi Perumahan (PRP), hingga Pinjaman Uang Muka Perumahan (PUMP).
Tidak hanya untuk perorangan, kolaborasi ini juga menyediakan fasilitas Kredit Konstruksi (KK) yang dialokasikan khusus untuk menyokong proyek pembangunan perumahan bagi para peserta.
Menilik rekam jejaknya, data internal BPJS Ketenagakerjaan mencatat bahwa sepanjang periode 2017 hingga Mei 2026, realisasi program MLT perumahan telah menyentuh angka 7.111 unit. Total nilai manfaat yang telah digelontorkan untuk sektor ini pun tidak main-main, yakni mencapai Rp4,86 triliun.
“Kami melihat kebutuhan para pekerja terhadap hunian yang layak dan terjangkau ini masih sangat besar, sehingga aksesnya perlu terus diperluas, salah satunya melalui penambahan kerja sama dengan bank penyalur,” jelas Saiful.
Saiful menambahkan, kemitraan strategis bersama BSI ini juga menjadi bentuk nyata sokongan terhadap Program 3 Juta Rumah yang tengah digenjot oleh pemerintah. Dengan terbukanya akses pembiayaan yang lebih lebar, peluang pekerja untuk memiliki rumah sendiri diharapkan bakal meningkat drastis.
“Bagi kami, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan tidak hanya hadir ketika pekerja mengalami risiko, tetapi juga memberikan nilai tambah yang dapat mendukung peningkatan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Salah satunya melalui MLT perumahan ini,” ia menegaskan.
Menatap masa depan, BPJS Ketenagakerjaan berharap kedekatan dengan BSI bisa berkembang ke sektor yang lebih luas, tidak hanya mandek pada urusan perumahan. Sinergi ini diproyeksikan mampu menyentuh program pemberdayaan bagi para ahli waris maupun penerima manfaat lewat payung Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA).
Di sisi lain, Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk kontribusi perseroan dalam membantu pemerintah menekan angka backlog perumahan nasional sekaligus memacu roda perekonomian.
“Sektor perumahan memiliki multiplier effect yang sangat besar terhadap berbagai industri turunan di Indonesia. Melalui kemitraan strategis dengan BPJS Ketenagakerjaan, BSI hadir memberikan solusi nyata bagi para pekerja untuk memiliki hunian layak dengan prinsip syariah yang adil,” kata Anggoro.
Berdasarkan rapor internal korporasi, BSI sendiri tengah menikmati tren pertumbuhan positif di sektor pembiayaan griya. Fenomena ini didorong oleh pulihnya daya beli masyarakat serta melonjaknya kebutuhan akan tempat tinggal di tingkat nasional.
Hingga posisi Maret 2026, portofolio pembiayaan griya yang dikelola BSI telah menembus angka kisaran Rp60 triliun, menjadikannya salah satu mesin penggerak utama dalam pertumbuhan pembiayaan konsumer perseroan. Bahkan pada triwulan pertama tahun 2026, akumulasi total pembiayaan BSI melonjak hingga Rp329 triliun, tumbuh kokoh di atas rata-rata industri perbankan tanah air.
Di samping memperkokoh taringnya di segmen komersial, bank syariah terbesar di Indonesia ini tetap berkomitmen mengawal program kepemilikan rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Hal ini dibuktikan dengan penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang per Maret 2026 lalu telah mencatatkan portofolio di atas Rp5,7 triliun.
Manajemen BSI mengonfirmasi bahwa tren pemesanan (booking) pembiayaan griya terus memperlihatkan grafik yang mumpuni. Pasar terbesar didominasi oleh segmen pembeli rumah pertama (first-time home buyers) dengan rentang harga properti berkisar antara Rp500 juta hingga Rp1 milar. Selain pembelian unit baru, derasnya arus permintaan pembiayaan tersebut mengalir dari kebutuhan pengalihan pinjaman (take over), renovasi hunian, serta berbagai keperluan tempat tinggal lainnya.