SEPUTARBANK BEKASI KABUPATEN - Sejumlah organisasi massa (ormas) di Desa Setia Mekar Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, mengikrarkan dirinya mendukung Kasan Abdullah sebagai Calon Kepala Desa Setia Mekar.
Ikrar dukungan ormas dalam wadah yang diberi nama 'Aliansi Perubahan untuk Semua' itu diresmikan pada sebuah acara bertajuk "Deklarasi Ormas, Komunitas dan Paguyuban", yang digelar di PIK Tambun, Desa Setia Mekar Tambun Selatan, Minggu (19/7)2026).
Lapangan PIK Tambun dipenuhi para pengurus dan anggota sekurang-kurangnya 5 ormas yang menyatakan dukungannya terhadap Kasan Abdullah sebagai calon Kades Setia Mekar. Ormas itu, ada Pemuda Pancasila, Gibas, Jajaka, Garda Bekasi, dan Eber.
Ketua Aliansi Perubahan untuk Semua, Arkat Kurniawan usai acara mengungkapkan, tak hanya ormas, Kasan pun mendapatkan dukungan dari komunitas warga lokal, yakni Gotik dan Bupul, serta kelompok warga perantauan, di antaranya Paguyuban Kebumen dan Paguyuban Pacitan.
Ia menjelaskan, dengan basis total daftar pemilih yang diperkirakan mengakar di angka sekitar 46.000 jiwa, koalisi komunitas ini secara realistis membidik target raihan minimal 2.000 suara.
Dukungan masif ini lahir dari latar belakang Kasan Abdullah atau Bang Kasan yang dinilai memiliki kapasitas mumpuni. Memulai karier birokrasi dari level nol, ia dianggap sangat memahami tata kelola birokrasi dan manajerial pemerintahan.
Harapannya, rekam jejak tersebut dapat diimplementasikan untuk memimpin dan membenahi tata kelola pemerintahan terkecil di tingkat desa secara profesional dan transparan.
Soal makna Perubahan untuk Semua' dipaparkan Arkat, lantaran melihat banyak hal atau faktor yang memang harus diperbaiki.
"Seperti infrastruktur, jalan, dan masalah irigasi. Saat ini kita tahu bahwa Desa Setia Mekar, terutama di daerah perumahan, masih sering sekali banjir. Dan hingga saat ini persoalan itu belum terlihat penanganannya," tutur Arkat kepada awak media.
Kemudian, lanjut Arkat, pihaknya mendapat bukti terakhir kali bahwa pemilihan Ketua RT, RW, ataupun DPD yang terakhir kali ini dilakukan oleh dan dipilih oleh Kepala Desa sendiri, tanpa ada aturan yang dijalankan.
"Seperti kita tahu menurut Peraturan Bupati tahun 2018 bahwa RT, RW itu harus dipilih oleh warga setempat hasil musyawarah ataupun bisa melalui polling. Tapi itu tidak terjadi. RT, beberapa RT, beberapa RW saat ini itu ditunjuk secara langsung. Dan ini ditunjuk langsung, diberikan mandat langsung, diberikan SK langsung oleh Kepala Desa," bebernya.
Jadi, kata dia, seakan-akan bahwa RT atau RW yang dibentuk sama mereka itu menjadi kekuatan politik buat mereka, oleh petahana saat ini.
"Itu yang sangat masif terjadi di desa Setia Mekar. Artinya, tidak melalui mekanisme yang benar," ujarnya
Faktor dorongan ingin perubahan lainnya, Argat menjelaskan, yerkait dana desa saat ini, yabg tanpa adanya transparansi.
"Jadi tidak ada transparansi, alokasi dana itu kemana-kemana. Kita sebagai warga yang ingin punya pemimpin yang baik tentunya butuh transparansi, dan itu kita tidak mencapai. Termasuk BPD kemarin pemilihan.
Menurut Arkat, mekanisme Itu sudah menyalih aturan.
"Jadi, tidak ada seleksi, baik beberapa warga per kadus atau per RW yang diseleksi, sama sekali nggak ada.
Dari tujuh anggota BPD yang ada, ditambah langsung dua. Itu pun secara langsung sama mereka, sama petahana dipilih," jelasnya
Menurut Arkat, saat ini warga Setia Mekar juga sangat berharap kepala desa yang mampu mengayomi seluruh warganya.
"Bukan Kepala Desa yang hanya bisa mengayomi orang-orang yang memang sebelumnya membela dia," katanya.
Sementara agenda Pilkades di Kabupaten Bekasi yang akan berlangsung pada September tahun ini, pendaftaran akan dimulai pada 26 Juli hingga2 Agustus 2026.