SEPUTARBANK, JAKARTA – PT Bank Syariah Nasional (BSN) terus mempercepat pemulihan aset bermasalah sekaligus memperkuat likuiditas bank dengan menawarkan portofolio penjualan aset senilai Rp 522,08 miliar kepada investor dan mitra strategis.
Direktur Utama Bank BSN Alex Sofyan Noor mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengoptimalkan aset non-produktif agar kembali memberikan nilai ekonomi.
"Bagi Bank BSN, aset pasif tidak boleh hanya berhenti sebagai angka di dalam laporan keuangan. Aset tersebut perlu dikelola, dipasarkan, dan dioptimalkan secara transparan serta prudent agar dapat kembali memiliki nilai ekonomi riil," ujar Alex dalam keterangannya terkait kegiatan Investor Gathering Asset Sales Kamis (25/6/2026).
Portofolio yang ditawarkan mencakup 648 unit aset properti yang tersebar di 25 wilayah operasional di Indonesia. Kawasan Jabodetabek dan Jawa Barat mendominasi penawaran dengan total 346 unit aset senilai Rp 178,3 miliar. Rinciannya, Jakarta sebanyak 114 unit dengan nilai Rp 57,8 miliar dan Bandung 110 unit senilai Rp 56,1 miliar.
Sementara itu, wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta mencatat nilai aset terbesar, yakni mencapai Rp 223,1 miliar dari 62 unit aset. Nilai tersebut ditopang oleh aset di Semarang senilai Rp 133,8 miliar dan Yogyakarta sebesar Rp 82,6 miliar.
Di Sumatera, BSN menawarkan 145 unit aset dengan nilai Rp 56,5 miliar yang tersebar di Pekanbaru, Banda Aceh, Medan, Palembang, dan Batam. Sisa portofolio lainnya terbagi di Kalimantan sebanyak 34 unit senilai Rp 28,2 miliar, Jawa Timur dan Bali sebanyak 35 unit senilai Rp 22,5 miliar, serta Sulawesi sebanyak 26 unit dengan nilai Rp 13,4 miliar.
Terkait eksekusi pengalihan kepemilikan aset, BSN menawarkan tiga skema, yakni melalui lelang terbuka, cessie atau pengalihan hak tagih kepada pihak ketiga, serta penjualan bersama antara bank dan nasabah.
Bank juga menyediakan katalog digital aset melalui situs terasrumahbsn.com yang dikembangkan bekerja sama dengan platform properti Rumah123. Alex memastikan aksi pembersihan neraca keuangan ini berjalan di tengah kondisi fundamental yang sangat sehat dan ekspansif.
Hingga Mei 2026, total aset BSN mencapai Rp 78,2 triliun atau meningkat 23% secara tahunan. Penyaluran pembiayaan tumbuh 22% secara year on year (yoy) menjadi Rp 58,3 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) naik 14% yoy menjadi Rp 60,6 triliun.
Dari sisi profitabilitas, laba tahun berjalan mencapai Rp 473 miliar atau meningkat 40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pun, bank ini kini mengantongi peringkat kredit korporasi AA+ dengan prospek stabil dari Pefindo.
Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana - Kontan