SEPUTARBANK, MATARAM – Himpunan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (Himbarsi) menyelenggarakan Rapat kerja nasional (Rakernas) dan BPRS Summit 2026 dalam rangka memperkuat peran strategis bagi perekonomian nasional di tengah kondisi global yang tidak stabil.
Rakernas yang dilaksanakan di lombok pada 19-21 April 2026 ini, menjadi menjadi momentum penting bagi para pemangku kepentingan untuk berkumpul, berdiskusi, dan merumuskan arah kebijakan ke depan agar Industri BPR Syariah tetap konsisten dan tumbuh ditengah masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya kepada ummat.
Ketua Panitia Penyelenggara Ivan Eroka Yuliadji, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antar pelaku industri.
“Rakernas dan BPRS Summit 2026 menjadi momentum penting untuk menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, serta mendorong inovasi demi kemajuan industri BPRS yang berkelanjutan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Ditempat yang sama Ketua Umum Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Syariah Seluruh Indonesia (Himbarsi), Alfi Wijaya menyampaikan kondisi BPRS di Indonesia sangat ini menunjukkan tren positif. BPRS terus menggerakkan roda ekonomi para pelaku usaha yang rata-rata pada segmen usaha mikro kecil menengah (UMKM).
”Bisnis BPRS lebih dominan berada pada sektor kondisi ekonomi di tingkat bawah. Saat ini sektor ini mulai melemah sehingga perlu disiapkan langkah-langkah mengantisipasi kondisi yang tidak diharapkan. Rakernas ini merupakan langkah kami mencari model yang tepat, bagaimana BPRS bisa bergerak dengan baik,” kata Alfi.
Menurut Alfi, angkah-langkah yang dapat dilakukan BPRS menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang tidak stabil dengan meningkatkan skala ekonomi, melakukan efisiensi, meningkatkan model bisnis dan meningkatkan tata kelola.
Ke depannya, BPRS harus bertransformasi ke layanan digital dengan menguatkan teknologi informasi supaya pelayanan kepada masyarakat bisa terus ditingkatkan. Selain itu, perlu memberikan literasi keuangan kepada masyarakat.
Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Zulverdi juga ikut memberikan masukan agar Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) memiliki ketahanan di tengah ketidakpastian global. Dia mengungkapkan secara umum, kondisi BPRS di Indonesia masih menunjukkan fungsi intermediasi yang tumbuh dan profitabilitas yang membaik.
“Namun demikian, pada awal tahun 2026 industri BPRS masih menghadapi tekanan, terutama dari meningkatnya NPF, tingginya FDR, serta mulai tertekannya ruang ekspansi akibat bantalan modal yang perlu terus dijaga,” kata Doddy usai menjadi pembicara dalam Rapat Kerja Nasional dan BPRS Summit 2026 tersebut.
Dia mengatakan kondisi BPRS di Indonesia menunjukkan tren yang positif. Nilai pembiayaan menembus angka Rp20,53 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp17,85 triliun. Dia menyatakan ekonomi Indonesia bisa bertahan dengan cukup baik. Namun, ada tekanan ekonomi dengan tarif yang diberlakukan Amerika Serikat.
Dia mengatakan kinerja BPRS secara nasional akibat tekanan ekonomi global juga mengalami tekanan meskipun fungsi intemedialnya tetap terjaga. Untuk menjaga pertumbuhan simpan pinjam di BPRS, menurutnya mengoptimalkan kinerja sekaligus memanfaatkan industri perbankan syariah secara nasional.






