OJK: Kredit BPR-BPRS di Wilayah Banyumas Raya Didominasi Sektor UMKM

PURWOKERTO JATENG – Penyaluran kredit Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah di wilayah Banyumas Raya, Jawa Tengah, saat ini masih ditopang oleh segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga pengujung Desember 2025, kontribusi sektor ini mendominasi peta pembiayaan di wilayah tersebut.

Berdasarkan sebaran portofolio, porsi kredit yang dikucurkan BPR/S kepada UMKM di empat kabupaten—Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara—telah menyentuh angka 60 persen dari total penyaluran.

Hal ini diungkapkan Kepala Kantor OJK Purwokerto, Haramain Billady, yang mengatakan bahwa kredit tersebut tersebar di sejumlah sektor, dengan porsi terbesar pada kategori bukan lapangan usaha, perdagangan besar dan eceran, serta sektor konstruksi.

“Penyaluran kredit BPR/S saat ini masih didominasi oleh sektor produktif, terutama kredit modal kerja dengan pangsa pasar mencapai 54 persen. Secara segmen, UMKM memegang kendali dengan porsi 60 persen,” jelas Haramain di Purwokerto, Selasa (24/2/2026).

Haramain menjelaskan, pembiayaan tersebut mengalir ke berbagai lini ekonomi, pada kategori bukan lapangan usaha, perdagangan besar dan eceran, serta sektor konstruksi menjadi penerima porsi terbesar.

Menurut Haramain, secara umum OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan di Banyumas Raya tetap kokoh meski dihantam dinamika ekonomi global.

Penilaian tersebut dilihat dari catatan OJK:

  • Hingga Desember 2025, kinerja perbankan secara agregat menunjukkan tren positif.
  • Aset Perbankan: Tumbuh 3,67% (yoy).
  • Dana Pihak Ketiga (DPK): Tumbuh 4,31% (yoy).

Khusus untuk industri BPR/S, meskipun DPK mampu tumbuh 0,47% (yoy), sisi aset dan kredit masih mengalami kontraksi masing-masing sebesar 1,95% dan 2,73% secara tahunan. Adapun rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berada di angka 21,97%, sebuah anomali yang dipicu oleh proses normalisasi pasca-restrukturisasi kredit pandemi COVID-19.

Tak hanya perbankan, gairah investasi di Banyumas Raya juga menunjukkan lonjakan signifikan. Jumlah investor saham meroket 38,20% (yoy), disusul investor reksa dana yang tumbuh 35,87% (yoy). Nilai transaksi pasar modal di wilayah ini bahkan menembus Rp2,073 triliun, atau melesat 98,38% dibandingkan periode sebelumnya.

Di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tampil impresif dengan pertumbuhan:

  • Aset: Naik 5,72%.
  • DPK: Naik 10,41%.
  • Kredit: Tumbuh pesat 18,34% (yoy).

Sementara itu, perusahaan pembiayaan telah menyalurkan dana sebesar Rp4,138 triliun, di mana 21% di antaranya terserap oleh sektor perdagangan serta jasa reparasi kendaraan bermotor.

“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat pengawasan serta bersinergi dengan pemerintah daerah. Fokus utama kami adalah menjaga stabilitas jasa keuangan sekaligus memastikan pembiayaan produktif bagi UMKM di Banyumas Raya terus terakselerasi,” pungkas Haramain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *