KUNINGAN JABAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkolaborasi dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan syariah. Di bulan suci Ramadan ini, sasaran edukasi keuangan syariah menyasar para para santri dan santriwati Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Gedung Darul Arqam menjadi saksi antusiasme ratusan santri kelas 12 Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, mengikuti literasi keuangan syariah yang dihelat pada Jumat (6/3/2026) kemarin.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program GERAK Syariah (Gebyar Ramadan Keuangan Syariah). Di tengah suasana bulan suci, para santri diajak untuk memahami cara mengelola keuangan yang tidak hanya sehat dan bijak, tetapi juga teguh pada prinsip syariah.
Kepala OJK Cirebon, Agus Mutholib, mengungkapkan bahwa pemilihan santri kelas 12 sebagai target utama bukanlah tanpa alasan. Menyasar pada Generasi “Melek Hukum”, maka OJK memandang bahwa di usia mereka yang rata-rata sudah memiliki KTP, para santri ini secara legal telah menjadi subjek hukum yang berwenang melakukan berbagai transaksi keuangan mandiri.
Agus menyoroti tantangan dunia digital saat ini, di mana layanan seperti mobile paylater hingga pinjaman online (pinjol) sangat mudah dijangkau hanya melalui ponsel pintar.
“Pemahaman sejak dini sangat diperlukan agar generasi muda tidak terjebak dalam praktik keuangan yang berisiko. Kami ingin mereka paham perencanaan keuangan dan mampu menggunakan instrumen keuangan secara bertanggung jawab,” jelas Agus.
Tak hanya soal proteksi diri, edukasi ini dirancang untuk mencetak generasi yang mandiri secara finansial. Harapannya, para santri kelak bisa berkontribusi aktif dalam membangun ekonomi umat di masa depan.
Hadir pula dalam acara tersebut, Deni Cahyadi selaku Head Area BSI Cirebon–Priangan Timur. Beliau memaparkan berbagai produk dan layanan keuangan syariah yang bisa menjadi alternatif aman dan berkah bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Pihak yayasan menyambut hangat inisiatif ini. Haji Maman Kurman, Ketua 1 Yayasan Husnul Khotimah, menilai materi literasi keuangan di era digital ini merupakan wawasan baru yang sangat berharga bagi bekal hidup para santri setelah lulus nanti.
Manfaat nyata dirasakan langsung oleh salah satu peserta, Annisa Ramham Aqila. Santriwati kelas 12 ini mengaku lebih waspada terhadap risiko layanan keuangan digital setelah mengikuti sesi tersebut.
“Banyak pengetahuan baru, terutama soal cara mengelola uang dengan bijak dan memahami apa saja risiko dari layanan keuangan digital yang marak sekarang,” ungkapnya.
Melalui sinergi ini, diharapkan para lulusan pesantren tidak hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga cerdas secara finansial dan mampu membentengi diri dari godaan transaksi keuangan yang merugikan.






