Gandeng BI, Kemenag Aceh Tengah Luncurkan Gerakan Wakaf 5.000 Pohon Kopi

ACEH TENGAH – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Tengah Provinsi Aceh, melakukan langkah inovatif dalam pengelolaan aset umat.

Pada Jumat 13 Febriari 2026, berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Lhokseumawe, Kemenag Aceh Tengah resmi meluncurkan program penanaman 5.000 bibit pohon kopi di atas lahan wakaf seluas 2,5 hektare.

Dilansir dari laman resmi Kemenag Aceh, kegiatan yang mengusung tema “Gerakan Berwakaf Pohon Kopi, Bermaslahat untuk Umat dan Menjaga Alam” ini dipusatkan di lahan milik Yayasan Wakaf Ikhlas Beramal, Desa Paya Bener, Kecamatan Bebesen, pada Jumat, 13 Februari 2026.

Kepala Kantor Kemenag Aceh Tengah, H. Wahdi MS, MA, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata sinergi lintas lembaga untuk menghidupkan wakaf produktif berbasis pertanian. Program ini dirancang untuk memberdayakan ekonomi umat sekaligus menjaga kelestarian alam dataran tinggi Gayo.

“Kami berharap 5.000 batang pohon kopi ini menjadi titik balik kebangkitan ekonomi umat. Melalui gerakan ini, tanah wakaf tidak hanya bernilai ibadah statis, tetapi bertransformasi menjadi aset yang memberikan manfaat finansial berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Wahdi.

Pemilihan komoditas kopi dinilai sangat strategis karena statusnya sebagai produk unggulan daerah yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun tetap ramah terhadap ekosistem.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Unit Pelaksanaan Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif, dan Syariah BI Lhokseumawe, Riemas Anugerah Maulana, menyebutkan bahwa penetapan Aceh Tengah sebagai “Kota Wakaf” melalui penanaman kopi ini adalah langkah awal yang sangat positif.

Menurut Maulana, BI mendukung penuh program ini karena orientasinya yang komprehensif, yakni penguatan Ekosistem Syariah, dengan mengelola wakaf secara profesional dan produktif.

Kemudian Kemandirian Ekonomi, dengan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar dari hasil panen kopi, dan pelestarian lingkungan, dengan berkontribusi pada penghijauan daerah tangkapan air.

Maulana mengaku optimis hasil budidaya ini nantinya akan memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi kemandirian umat di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *