Modal Melimpah Justru Memicu Kredit Macet di Sektor UMKM, Ini Penjelasan Kadin

JAKARTA – Meskipun akses pembiayaan dari perbankan relatif tersedia, namun kredit macet si tingkat pelaku Usaha Kecil Menengah Mikro (UMKM) tetap tinggi. angka kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) di segmen ini justru menunjukkan tren peningkatan.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menilai, tingginya kredit macet di segmen UMKM disebabkan karena lemahnya permintaan.

Dalam forum Global & Domestic Economic Outlook 2026, Jumat (16/1/2026), Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin, Aviliani, mengungkapkan, jika ekosistem permintaan itu tidak dibenahi, maka kucuran dana besar-besaran melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) tidak akan efektif.

“Seringkali kita hanya melihat dari sisi suplai. KUR diberikan secara besar-besaran, tapi di sisi lain, pelakunya tidak memiliki target pasar atau demand yang jelas. Inilah yang memicu kenaikan kredit macet,” jelas Aviliani.

Aviliani menyoroti potret buram UMKM yang mayoritas masih berada dalam kategori survival mode atau sekedar bertahan hidup. Mereka menjalankan bisnis hanya untuk menyambung hidup sehari-hari, bukan untuk ekspansi yang berkelanjutan.

Kondisi ini, menurut Aviliani, membuat UMKM rentan terhadap tekanan ekonomi dan berujung pada meningkatnya risiko kredit macet.

“Mereka itu menjadi UMKM hanya untuk bertahan hidup. Tapi tidak bisa naik kelas,” jelasnya.

Sebagai solusi konkret, Kadin mendorong transformasi model bisnis UMKM melalui integrasi ke dalam rantai pasok (supply chain) industri besar. Dengan menjadi bagian dari ekosistem industri, UMKM memiliki kepastian sebagai pemasok bahan baku atau komponen, sehingga arus kas mereka lebih terjamin.

Sektor pangan menjadi prioritas utama Kadin karena relevansinya dengan agenda kemandirian pangan nasional. Selain itu, sektor manufaktur juga menjadi target penguatan agar industri dalam negeri memiliki fondasi yang lebih kokoh dari hulu ke hilir.

“Yang kedua adalah supply chain berkaitan dengan manufaktur. Karena manufaktur ini juga harus digerakkan,” tegasnya. 

Sebagai informasi, pemerintah melaporkan hingga November 2025, penyaluran KUR UMKM sudah mencapai 83% atau sekitar Rp238 triliun, dari target sebesar Rp286 triliun pada 2025 lalu.

Dari target tersebut, KUR telah disalurkan pada 2,25 juta debitur baru atau sekitar 96%, dari target sebanyak 2,34 juta debitur.

Kemudian, untuk debitur graduasi naik melampaui target sebanyak 112% atau sekitar 1,3 juta debitur, dari target 1,2 juta debitur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *