Kejar Profitabilitas Kredit, Perbankan Mulai Lepas SRBI

JAKARTA – Masih diawal tahun 2026, sektor perbankan mulai mengubah strategi pengelolaan likuiditasnya. Langkah ini didorong rasa optimisme terhadap bangkitnya permintaan kredit di tahun 2026.

Realisasi strategi tersebut terlihat dari sejumlah bank yang kini mempertimbangkan untuk mengurangi porsi penempatan dana pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan mengalihkannya ke penyaluran pinjaman yang dinilai jauh lebih menguntungkan.

Langkah ini diambil karena penyaluran kredit menawarkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dibandingkan instrumen likuiditas jangka pendek milik bank sentral tersebut.

Dominasi Bank di SRBI Capai Titik Tertinggi

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per November 2025, keterlibatan perbankan dalam SRBI sebenarnya masih sangat besar, yakni mencapai Rp 618 triliun. Angka ini mencatatkan rekor kepemilikan tertinggi sejak instrumen ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2023.

Menariknya, meskipun total nilai instrumen SRBI di pasar secara keseluruhan telah menyusut sekitar Rp 200 triliun, dominasi perbankan justru menguat secara persentase. Pada November 2025, porsi kepemilikan bank di SRBI melonjak hingga 85,5%, jauh melampaui posisi November 2024 yang saat itu masih berada di level 62,08%.

Pergeseran Strategi di Meja Direksi

Meski angka agregat menunjukkan dominasi, di level korporasi beberapa bank besar mulai menunjukkan tren pelepasan.

CIMB Niaga: Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memangkas penempatan dana di SRBI secara signifikan. Dalam setahun terakhir, porsinya merosot hingga 30% secara year-on-year (YoY). Lani menyebut likuiditas perusahaan kini lebih banyak diarahkan untuk mendongkrak pendapatan komisi (fee-based income) melalui lini wealth management.

BCA: Senada dengan hal tersebut, BCA tetap memprioritaskan obligasi pemerintah dalam portofolio surat berharganya yang mencapai Rp 436 triliun per November 2025. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menjelaskan bahwa meskipun mereka masih memiliki SRBI, jumlahnya tidak signifikan dan lebih difungsikan sebagai alat pengelolaan likuiditas semata.

Bank Oke: Langkah lebih drastis diambil oleh Bank Oke. Menurut Direktur Kepatuhan Efdinal Alamsyah, per 31 Desember 2025, pihaknya bahkan sudah tidak lagi menggenggam instrumen SRBI dalam portofolio mereka.

Prioritas pada Imbal Hasil Tinggi

Dorongan utama di balik fenomena ini adalah upaya peningkatan profitabilitas. Efdinal Alamsyah menegaskan bahwa perbankan akan selalu memprioritaskan penyaluran dana melalui kredit untuk memaksimalkan keuntungan.

“SRBI hanyalah instrumen likuiditas jangka pendek dengan return yang terbatas. Kami tentu lebih mengejar penyaluran kredit karena imbal hasilnya lebih tinggi bagi bank,” pungkas Efdinal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *