JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat, laju kredit perbankan pada Juli 2025 hanya mencapai 7,03%(yoy), menurun dari bulan sebelumnya yang tumbuh 7,7%(yoy).
Data ini menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan yang masih tersendat, padahal perannya sangat penting untuk menggerakkan roda ekonomi. Sedangkan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kredit perbankan perlu terus ditingkatkan.
Dalam siaran persnya, Direktur Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perlambatan ini disebabkan oleh kehati-hatian bank dalam menyalurkan pinjaman, meskipun BI sudah memberikan insentif berupa penurunan suku bunga dan pelonggaran likuiditas.
Bank-bank lebih memilih menempatkan dananya pada surat berharga ketimbang menyalurkan kredit.
Likuiditas bank yang melimpah ini didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 7,00%(yoy)pada Juli 2025, seiring dengan ekspansi keuangan pemerintah. Permintaan kredit sendiri datang dari sektor-sektor ekspor seperti pertambangan dan perkebunan, serta sektor transportasi, industri, dan jasa sosial.
Secara umum, perlambatan kredit juga mencerminkan lemahnya permintaan dari dunia usaha yang lebih memilih menggunakan dana internal. Hal ini terlihat dari rendahnya pertumbuhan kredit konsumsi dan kredit modal kerja, yang masing-masing hanya tumbuh 8,11% (yoy) dan 3,08% (yoy). Untungnya, kredit investasi tumbuh tinggi hingga 12,42% (yoy), sejalan dengan tingginya minat investasi.
Selain itu, pembiayaan syariah menunjukkan performa yang baik dengan pertumbuhan 8,31% (yoy). Namun, kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih lesu, hanya tumbuh 1,82% (yoy).
Ke depannya, BI akan terus mendorong penyaluran kredit dengan kebijakan makroprudensial yang longgar dan koordinasi yang erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). BI memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan tahun 2025 akan berada di kisaran 8-11%.